1/03/2017

Ramalan Cinta Menurut Shio Tahun 2017

Tak terasa, tahun monyet api kini telah berganti menjadi ayam api. Peruntungan masing-masing shio tahun 2017  ini pun otomatis akan berubah. Secara umum, menurut Tionghoa.info, tahun ini merupakan tahun yang penuh dengan energi.

Ramalan Cinta Menurut Shio Tahun 2017

Namun begitu, kamu juga harus bekerja keras dan bersabar dalam mencapai tujuan yang kamu inginkan. Bukan berarti kamu tak memiliki peruntungan sama sekali. Apa lagi soal cinta. Agar tak salah langkah, simak ramalan peruntungan cintamu menurut Tionghoa.info, di bawah ini. 

Shio Tikus. 

Kamu akan banyak terhubungan dengan emosi dan perasaan. Karena itu, kamu tak akan kesulitan mengutarakan perasaan. Ini juga bisa membuatmu menjadi lebih mudah memulai hubungan baru. Kuncinya, pastikan kamu memperlakukan orang yang kamu kasihi dengan baik. Kamu yang sudah menikah, kemungkinan akan disibukkan mengurus anak, atau juga masa kehamilan. Buat kamu yang masih jombol, cari pasangan secara online akan lebih mudah. 

Shio Kerbau. 

Jangan khawatir, kamu dianugerahkan memiliki insting yang sangat peka. Instingmu akan bekerja dengan sangat baik untuk menemukan orang yang cocok dan menyingkirkan orang yang tidak sesuai dengan kepribadianmu. Hal ini juga berlaku dalam persahabatan. Agar kisah cintamu lebih bergairah, kamu harus berbagi kasih yang tulus kepada pasangan. 

Shio Macan. 

Meskipun kamu punya banyak energi di tahun ayam ini. Semua yang akan kamu dapatkan tergantung pada dirimu sendiri. Akan ada perubahan besar dalam jalannya kisah percintaanmu tahun ini. Tapi, apakah perubahan buruk atau baik, itu tergantung dari dirimu sendiri. Makanya, waspada dalam mengambil setiap langkah. 

Shio Kelinci. 

Ada sejuta cara untuk menemukan pendamping hidup. Jangan ragu untuk mecoba hal dan cara baru. Termasuk mencari jodoh lewat jasa online. Chatting juga bisa! Dengan cara ini, kemungkinan untuk bertemu dengan orang-orang yang menarik akan semakin besar. Tapi, buat kamu yang sudah punya pasangan, sebaiknya lebih berhati-hati karena kehidupan seks dengan pasangan akan menemukan sedikit masalah. 

Shio Naga. 

Look, tidak semua hal bisa kamu pecahkan dengan 'perang dingin.' Bicaralah lebih banyak. Dengan begitu, kamu akan lebih mudah membicarakan masalah yang kamu dan pasangan hadapi. 

Shio Ular. 

Tahun ini, kamu sepertinya berubah sedikit lebih supel, ya! Ini akan membuatmu menjadi lebih menarik dan mempesona. Kadang, untuk menemukan pasangan yang tepat, kamu hanya butuh mendengarkan kata hatimu. 

Shio Kuda. 

Sepertinya, kisah cintamu akan sama saja dengan tahun kemarin. Tapi, hal ini bukan berarti buruk. Kalau kehidupan seksmu menggairahkan di tahun lalu, sepanjang tahun ini pun masih sama. Tapi kalau pun tidak begitu baik, tak masalah. Fokus saja pada karier dan juga persahabatan. 

Shio Kambing. 

Kamu kemungkinan akan jatuh cinta tahun ini. Kamu mungkin akan bertemu dengan orang yang benar-benar kamu sukai. Tapi ini bukan hanya soal asmara. Ini juga bisa berarti persahabatan atau teman yang lantas kamu anggap sebagai saudara sendiri. 

Shio Monyet. 

Kehidupan asmaramu bakal harmonis dan menggairahkan sepanjang tahun. Baik hubungan asmara dan persahabatanmu akan stabil. Kalau kamu berniat untuk meningkatkan kualitas hubungan asmara, maka kamu harus mengungkapkan perasaan dengan lebih baik. Tahun ini juga penuh dengan romantisme dan gairah seksual bagi kamu yang sudah berpasangan. Jadi, kamu harus dengarkan apa keinginan pasanganmu. Pertimbangkan gagasan yang mereka utarakan. 

Shio Ayam. 

Perasaan adalah kunci bagi setiap hubungan. Baik hubungan asmara dan persahabatan. Jadi, kalau kamu ingin meningkatkan kualitas hubungan, sebaiknya berikan perhatian yang dalam kepada pasangan. 

Shio Anjing. 

Tahun ini, emosimu lebih stabil dari tahun sebelumnya. Tapi, bukan berarti hubungan asmaramu akan aman-aman saja. Bisa jadi kestabilan emosi ini justru akan membawamu pada perselisihan dengan pasangan. Jadi, sebaiknya bicarakan segala hal dengan pasanganmu secara baik-baik. 

Shio Babi. 

Meskipun perlahan, kehidupan asmaramu maju di tahun 2017 ini. Di antara kehidupan shio tahun 2017 yang lainnya, kamu akan lebih memerhatikan emosimu sendiri. Ada saat-saat kamu ingin sendiri. Kamu hanya perlu waktu berpikir sejenang terkait hubungan asmara.

Sumber: bintang.com

11/29/2016

Beberapa Tanda-Tanda Kiamat Yang Telah Terjadi Saat Ini

Ibn Mas’ud pernah bertanya pada Rasulullah, “Ya Rasululullah, apakah datangnya hari kiamat disertai tanda-tanda kedatangannya?” Dia bersabda “Ya, wahai Ibn Mas’ud.”

Beberapa Tanda-Tanda Kiamat Yang Telah Terjadi Saat Ini


Jadi kita sebagai Muslim harus mengetahui tanda-tandanya. Ada banyak tanda-tandanya. Di antaranya adalah:

  • Anak-anak menjadi penuh kemarahan. Dengan kata lain, mereka berani melawan orangtua mereka. Mereka tidak segan-segan berkata kasar dan menghardik orangtua mereka.
  • Hujan dapat membakar. Jika kita menganalisisnya, hal ini telah terjadi. Sekarang hujan asam semakin sering terjadi. Untuk mengetahui lebih lanjut tentang hujan asam, anda bisa mengunjungi link Wikipedia berikut ini: Hujan Asam.
  • Orang-orang jahat bertebaran di muka bumi.

  • Orang-orang akan mempercayai orang-orang yang berkhianat, sedangkan  orang-orang yang dapat dipercaya dianggap sebagai pengkhianat. Orang yang benar akan dianggap sebagai pendusta dan seseorang yang menceritakan kebohongan dianggap sebagai orang yang benar.

  • Orang-orang akan memutuskan tali silaturahmi. Hal ini telah terjadi sekarang dimana orang-orang lebih senang tinggal di rumah dan menonton televisi, dan mereka enggan mengunjungi tetangga.

  • Orang-orang munafik akan berkuasa.

  • Orang-orang yang berperangai buruk mengendalikan perdagangan.

  • Masjid-masjid dihias tapi hati manusia telah menjadi kotor. Jadi orang-orang yang beribadah di masjid tidak melakukan tazkiyah, meskipun masjidnya indah.

  • Orang-orang mukmin menjadi lebih terhina daripada kambing yang jelek.

  • Homoseksualitas dan lesbianisme tersebar luas.

  • Orang-orang muda mempunyai kekayaan besar-besaran. Misalnya Zuckerberg yang merupakan multi-bilyuner sebelum dia mencapai umur 30.

  • Adanya perkumpulan-perkumpulan untuk merusak wanita. Sekarang banyak organisasi wanita yang mengatakan ingin membebaskan wanita, namun mereka malah mempromosikan wanita untuk membuka auratnya. Misalnya kontes seperti Miss World dimana para wanita disuruh mempertontonkan auratnya dan memperlihatkan keindahan tubuhnya. Hal seperti ini justru menghancurkan kemuliaan wanita. Dalam Islam, wanita disuruh menutup auratnya agar kemuliaan dan kehormatannya terjaga. Namun yang dilakukan budaya zaman sekarang justru sebaliknya. Wanita malah disuruh untuk membuka auratnya. Dan auratnya tersebut menjadi tontonan orang banyak. Benar-benar dunia telah menjadi begitu sakit.

  • Terjadinya penghancuran peradaban dan penghancuran dunia. Jadi penghancuran dunia akan menjadi peradaban.

  • Instrumen musik akan tersebar luas dan Rasulullah bersabda bahwa instrumen musik akan ada di kepala manusia. Ini menakjubkan sekali. Bagaimana Rasulullah tahu tentang hal ini? Itulah yang dikatakan hadistnya, saya tidak mengarang-ngarangnya. Dikatakan bahwa “Di kepala mereka akan ada instrumen musik.” Siapa yang sangka? Tidak ada yang tahu apa itu artinya di zaman Rasulullah. Tapi sekarang kita melihatnya, semua orang dimana-mana mengenakan headphone dan earphone untuk mendengarkan musik.

  • Akan ada banyak penegak hukum.

  • Maraknya penghinaan untuk membuat orang lain tertawa. Sekarang lihatlah semua acara TV dimana para pelawak hanya mencela orang-orang untuk membuat pemirsa di rumah tertawa.

  • Banyak anak-anak yang lahir karena perzinaan. Bahkan di negara ini sekarang lebih dari 50% anak SMA telah melakukan perzinaan. Luar biasa.

  • Rasulullah bersabda bahwa cobaan akan ditunjukkan kepada hati manusia seperti sajadah. Dia mempunyai dua garis, yang horizontal dan vertikal. Ini maksudnya adalah TV. Dan beginilah caranya setan menghancurkan hati manusia, dengan menunjukkan fitnah pada manusia dan gambar-gambar jelek pada TV. Setan melakukannya terus-menerus sampai manusia menjadi terbiasa dengan kekerasan yang ada dalam tayangan TV. Kita tidak lagi merasakan apapun ketika melihat kekerasan.

  • Rasulullah s.a.w bersabda, “Kamu akan melihat orang-orang dengan cambuk seperti ekor sapi. Mereka akan memukul manusia dengannya.”

  • Wanita yang berpakaian dan telanjang pada saat bersamaan. Mereka akan berjalan berlenggak-lenggok dan membuat menarik orang lain kepada mereka. Dia berkata bahwa rambut mereka akan seperti unta Bactrian. Unta itu tidak ada di Arab, melainkan berasal dari Persia. Wanita-wanita seperti itu tidak akan masuk surga.

  • Dia bersabda “Sebagian umatku akan meminum khamr dan memanggilnya dengan nama lain.” Mereka mempunyai banyak nama panggilan untuk khamr. Dan ini sudah terjadi. Kita memanggil khamr dengan berbagai sebutan, misalnya vodka, tuak, martini, wine, anggur, bir, dan sebagainya.


Jadi inilah tanda-tanda dari hari kiamat yang sekarang telah terjadi. Ya Allah, Rasulullah telah berbicara benar dan nubuatnya menjadi kenyataan. Bagi saya ini adalah mukjizat kenabian yang nyata dari Rasulullah.

Source : lampuislam.org

11/28/2016

128 Perilaku Orang-Orang Jahiliyyah Menurut Terjemahan Kitab Masailul Jahiliyyah Karya Syaikh Muhammad Bin Abdil Wahhab

Terkait perilaku-perilaku jahiliyyah yang diingkari oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab rahimahullahu ta’ala mengatakan,

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

Berikut ini adalah beberapa perkara yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyelisihi orang-orang jahiliyyah dari kalangan dua ahlul kitab dan [orang-orang jahiliyyah] dari kalangan ummi [yang tidak memiliki kitab suci di antaranya orang-orang musyrik Quraisy]—yang tidak boleh seorang muslim pun tidak mengetahuinya.

فَالضِّدُّ يُظْهِرُ حُسْنَهُ الضِّدُّ وَبِضِدِّهَا تَتَبَيَّنُ الأَشْيَاءُ

Maka, kebaikan itu akan lebih tampak dengan lawannya

128 Perilaku Orang-Orang Jahiliyyah Menurut Terjemahan Kitab Masailul Jahiliyyah Karya Syaikh Muhammad Bin Abdil Wahhab

Dan dengan lawan sesuatu akan lebih jelas sesuatu itu

Maka, perkara yang paling pentingnya dan yang paling bahayanya [dari perkara-perkara jahiliyyah itu] adalah tidak adanya iman di dalam hati terhadap apa-apa yang datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jika muncul anggapan baik terhadap apa yang dilakukan oleh orang-orang jahiliyyah tersebut, sempurnalah kerugiannya, sebagaimana Allah ta’ala firmankan,

وَالَّذِينَ آمَنُوا بِالْبَاطِلِ وَكَفَرُوا بِاللَّهِ أُوْلَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ

“Dan orang-orang yang beriman kepada kebatilan dan kufur terhadap Allah mereka itulah orang-orang yang merugi.” (QS. Al ‘Ankabut: 52)

Perkara pertama, orang-orang jahiliyyah beribadah dengan menjadikan orang-orang shalih sebagai sekutu dalam doa dan ibadah-ibadah kepada Allah. Mereka menginginkan syafaat orang-orang shalih itu di sisi Allah, karena persangkaan bahwa Allah dan orang-orang shalih tersebut mencintai perbuatan itu, sebagaimana Allah ta’ala berfirman,

وَيَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللّهِ مَا لاَ يَضُرُّهُمْ وَلاَ يَنفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَـؤُلاء شُفَعَاؤُنَا عِندَ اللّهِ

“Dan mereka menyembah selain Allah apa yang tidak dapat mendatangkan mudharat dan tidak pula [mendatangkan] manfaat kepada mereka. Mereka berkata, ‘Sembahan-sembahan itu adalah pemberi syafaat kami di sisi Allah’.” (QS. Yunus: 18)

Dan Allah ta’ala juga berfirman,

وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِن دُونِهِ أَوْلِيَاء مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى

“Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah mengatakan, ‘Kami tidak menyembah mereka, kecuali agar mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya’.” (QS. Az Zumar: 3)

Inilah perkara paling besar yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selisihi pada orang-orang jahiliyyah. Karena itu, beliau datang dengan tauhid dan mengabarkan bahwa tauhidlah agama Allah yang dengannya Allah utus seluruh rasul. Tidaklah diterima amalan apapun kecuali amalan yang bersih [dari kesyirikan]. Dan beliau juga mengabarkan bahwa siapa saja yang mengerjakan apa yang dipandang baik oleh orang-orang jahiliyyah berarti betul-betul telah Allah haramkan untuknya Surga dan tempat kembalinya nanti adalah Neraka.

Inilah [pula] perkara yang karenanya terpecah manusia antara mukmin dan kafir. Dari perkara inilah muncul permusuhan dan karenanya pula disyariatkan jihad [fi sabilillah]. Allah ta’ala berfirman,

وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى لاَ تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ كُلُّهُ لِلّه

“Dan perangilah oleh kalian orang-orang musyrik itu hingga tidak ada lagi kesyirikan dan agama semuanya hanya untuk Allah.” (QS. Al Anfal: 39)

Perkara kedua, orang-orang jahiliyyah berpecah-belah dalam agama mereka, sebagaimana Allah ta’ala berfirman,

كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ

“Tiap-tiap kelompok merasa bangga dengan apa yang ada pada kelompok mereka.” (QS. Ar Rum: 32)

Demikian pula di dalam urusan dunia mereka. Mereka memandang bahwa hal ini adalah sesuatu yang benar.

Karena itu, datanglah Rasulullah dengan [mengajak] bersatu di atas Islam melalui firman Allah ta’ala,

شَرَعَ لَكُم مِّنَ الدِّينِ مَا وَصَّى بِهِ نُوحاً وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى وَعِيسَى أَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ وَلَا تَتَفَرَّقُوا فِيهِ

“Allah telah menetapkan untuk kalian dari agamaNya apa yang telah diwasiatkan kepada Nuh, apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa. Yaitu, ‘Tegakkanlah agama dan janganlah kalian berpecah-belah di dalamnya’.” (QS. Asy Syura: 13)

Dan Allah ta’ala juga berfirman,

إِنَّ الَّذِينَ فَرَّقُواْ دِينَهُمْ وَكَانُواْ شِيَعاً لَّسْتَ مِنْهُمْ فِي شَيْءٍ

“Sesungguhnya, orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka itu berkubu-kubu, tidak ada sedikit pun tanggung-jawabmu atas mereka.” (QS. Al An’am: 159)

Allah ta’ala melarang kita menyerupai mereka melalui firmanNya,

وَلاَ تَكُونُواْ كَالَّذِينَ تَفَرَّقُواْ وَاخْتَلَفُواْ مِن بَعْدِ مَا جَاءهُمُ الْبَيِّنَاتُ

“Dan janganlah kalian menyerupai orang-orang yang berpecah-belah dan berselisih setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang jelas.” (QS. Ali Imran: 105)

Dan Allah juga melarang kita dari berpecah-belah dalam urusan dunia melalui firmanNya,

وَاعْتَصِمُواْ بِحَبْلِ اللّهِ جَمِيعاً وَلاَ تَفَرَّقُواْ

“Dan berpeganglah kalian semua dengan tali Allah serta jangan berpecah-belah.” (QS. Ali Imran: 103)

Perkara ketiga, menyelisihi pemimpin kaum muslimin dan meniadakan ketundukan kepadanya mengandung keutamaan [bagi orang-orang jahiliyyah]. Sementara mendengar dan menaati pemimpin kaum muslimin mengandung kerendahan dan kehinaan. Karena itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyelisihi orang-orang jahiliyyah dan memerintahkan agar mendengar dan menaati pemimpin kaum muslimin serta menasehatinya. Beliau sangat menekankan itu. Beliau perlihatkan itu dan terus mengulanginya.

Tiga perkara tersebut adalah perkara-perkara yang terkumpul pada apa yang shahih datangnya dalam Ash Shahih [Shahih Muslim hadits nomor 1715, dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu] bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللهَ يَرْضَى لَكُمْ ثَلَاثًا : أَنْ تَعْبُدَوْهُ وَلاَ تُشْرِكُواْ بِهِ شَيْئًا ، وَأَنْ تَعْتَصِمُواْ بِحَبْلِ اللهِ جَمِيْعًا وَلاَ تَتَفَرَّقُواْ ، وَأَنْ تَنَاصَحُواْ مَنْ وَلاَّهُ اللهُ أَمَرَكُمْ

“Sesungguhnya, Allah ridho untuk kalian tiga perkara. Kalian sembah Allah dan tidak menyekutukanNya dengan apapun, kalian semua berpegang dengan tali Allah dan tidak berpecah-belah, dan kalian saling menyampaikan nasehat kepada siapa saja yang Allah jadikan sebagai pemimpin kalian.”

Tidaklah terjadi kerusakan dalam agama dan dunia seseorang, kecuali karena sebab tidak adanya ketiga perkara itu atau sebagiannya.

Perkara keempat, agama orang-orang jahiliyyah dibangun di atas sejumlah dasar. Yang paling utamanya adalah sikap taklid. Dan itu sebuah kaedah yang paling besar bagi seluruh orang-orang kafir dari pertama sampai terakhir mereka, sebagaimana Allah ta’ala berfirman,

وَكَذَلِكَ مَا أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ فِي قَرْيَةٍ مِّن نَّذِيرٍ إِلَّا قَالَ مُتْرَفُوهَا إِنَّا وَجَدْنَا آبَاءنَا عَلَى أُمَّةٍ وَإِنَّا عَلَى آثَارِهِم مُّقْتَدُونَ

“Dan demikianlah. Kami tidak mengutus sebelummu seorang pemberi peringatan pun di satu negeri kecuali orang-orang yang hidup mewah di situ akan mengatakan, ‘Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut satu agama dan sesungguhnya kami adalah pengikut jejak-jejak mereka’.” (QS. Az Zuhruf: 23)

Dan Allah ta’ala juga berfirman,

وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنزَلَ اللَّهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا وَجَدْنَا عَلَيْهِ آبَاءنَا أَوَلَوْ كَانَ الشَّيْطَانُ يَدْعُوهُمْ إِلَى عَذَابِ السَّعِيرِ

“Dan jika dikatakan kepada mereka, ‘Ikutlah apa-apa yang diturunkan oleh Allah’, mereka menjawab: “[Tidak], tetapi kami [hanya] mengikuti apa-apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya’. Dan apakah mereka [tetap akan mengikuti bapak-bapak mereka], meskipun setan mengajak mereka ke dalam siksa Neraka?” (QS. Luqman: 21)

Karena itu, Rasulullah mendatangi mereka dengan firman Allah,

قُلْ إِنَّمَا أَعِظُكُم بِوَاحِدَةٍ أَن تَقُومُوا لِلَّهِ مَثْنَى وَفُرَادَى ثُمَّ تَتَفَكَّرُوا مَا بِصَاحِبِكُم مِّن جِنَّةٍ

“Katakan, ‘Sesungguhnya, aku hendak memperingatkan kalian satu hal saja: hendaklah kalian menghadap hanya kepada Allah berdua atau sendiri-sendiri. Lalu, kalian renungkan bahwa tidak ada penyakit gila sedikit pun pada teman kalian [Muhammad] itu’.” (QS. Saba’: 46)

Dan firman Allah ta’ala,

اتَّبِعُواْ مَا أُنزِلَ إِلَيْكُم مِّن رَّبِّكُمْ وَلاَ تَتَّبِعُواْ مِن دُونِهِ أَوْلِيَاء قَلِيلاً مَّا تَذَكَّرُونَ

“Ikutilah apa yang diturunkan kepada kalian dari Rabb kalian dan janganlah kalian mengikuti para pelindung selain Allah. [Sungguh] sangat sedikitlah kalian mengambil pelajaran [darinya].” (QS. Al A’raf: 3)

Perkara kelima, sesungguhnya, termasuk dari kaedah-kaedah terbesar mereka adalah terpukau dengan jumlah yang banyak. Dengan jumlah yang banyak itu mereka ber-hujjah akan benarnya sesuatu. Dan menjadikannya sandaran sesuatu yang batil dengan asingnya sesuatu itu dan sedikit pengikutnya. Maka, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam datang kepada mereka dengan kebalikan hal tersebut dan menjelaskannya lebih dari satu tempat di dalam Al Qur-an.

Perkara keenam, ber-hujjah dengan orang-orang terdahulu seperti firman Allah ta’ala,

قَالَ فَمَا بَالُ الْقُرُونِ الْأُولَى

“Berkata [Fir’aun], ‘Maka, bagaimanakah keadaan umat-umat yang dahulu?’.” (QS. Thaha: 51)

مَّا سَمِعْنَا بِهَذَا فِي آبَائِنَا الْأَوَّلِينَ

“…’belum pernah kami mendengar yang seperti ini di nenek-nenek moyang kami dulu’.” (QS. Al Mu’minun: 24)

Perkara ketujuh, berdalil dengan satu kaum yang diberi kekuatan di dalam pemahaman, pekerjaan, kekuasaan, harta-benda, dan kedudukan. Karena itu, Allah membantah hal tersebut melalui firmanNya,

وَلَقَدْ مَكَّنَّاهُمْ فِيمَا إِن مَّكَّنَّاكُمْ فِيهِ

“Dan sungguh betul-betul telah Kami teguhkan kedudukan mereka dalam hal-hal yang Kami belum pernah teguhkan kedudukan kalian di dalamnya.” (QS. Al Ahqaf: 26)

Dan firmanNya,

وَلَمَّا جَاءهُمْ كِتَابٌ مِّنْ عِندِ اللّهِ مُصَدِّقٌ لِّمَا مَعَهُمْ وَكَانُواْ مِن قَبْلُ يَسْتَفْتِحُونَ عَلَى الَّذِينَ كَفَرُواْ فَلَمَّا جَاءهُم مَّا عَرَفُواْ كَفَرُواْ بِهِ

“Dan ketika datang kepada mereka Al Qur-an dari Allah yang membenarkan apa yang ada pada mereka—sedangkan mereka sebelumnya mereka biasa mengharapkan [kedatangan nabi terakhir] agar menang atas orang-orang kafir—lalu ketika datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui itu, mereka ingkar kepadanya.” (QS. Al Baqarah: 89)

Juga firmanNya,

يَعْرِفُونَهُ كَمَا يَعْرِفُونَ أَبْنَاءهُمْ

“Mereka mengenalnya [yaitu, Rasulullah], sebagaimana mereka mengenal anak-anak mereka.” (QS. Al Baqarah: 146)

Perkara kedelapan, berdalil tentang batilnya sesuatu dengan tidak diikutinya sesuatu itu kecuali oleh orang-orang lemah. Seperti firman Allah ta’ala,

أَنُؤْمِنُ لَكَ وَاتَّبَعَكَ الْأَرْذَلُونَ

“…’Apakah kami beriman kepadamu, sedangkan yang mengikutimu adalah orang-orang yang hina?’.” (QS. Asy Syu’ara’: 111)

Dan firmanNya,

أَهَـؤُلاء مَنَّ اللّهُ عَلَيْهِم مِّن بَيْنِنَا

“…’Orang-orang semacam inikah yang telah Allah beri anugrah di antara kita?’.” (QS. Al An’am: 53)

Maka, Allah bantah hal itu melalui firmanNya,

أَلَيْسَ اللّهُ بِأَعْلَمَ بِالشَّاكِرِينَ

“Bukankah Allah yang lebih mengetahui orang-orang yang bersyukur?”. (QS. Al An’am: 53)

Perkara kesembilan, mencontoh ulama-ulama yang fasik dan ahli-ahli ibadah yang bodoh. Maka, Allah datang dengan firmanNya,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ إِنَّ كَثِيراً مِّنَ الأَحْبَارِ وَالرُّهْبَانِ لَيَأْكُلُونَ أَمْوَالَ النَّاسِ بِالْبَاطِلِ وَيَصُدُّونَ عَن سَبِيلِ اللّهِ

“Wahai, orang-orang beriman, sesungguhnya, kebanyakan ulama-ulama Yahudi dan rahib-rahib Nasrani benar-benar makan harta orang dengan jalan batil dan mereka menghalang-halangi [manusia] dari jalan Allah.” (QS. At Taubah: 34)

Juga dengan firmanNya,

لاَ تَغْلُواْ فِي دِينِكُمْ غَيْرَ الْحَقِّ وَلاَ تَتَّبِعُواْ أَهْوَاء قَوْمٍ قَدْ ضَلُّواْ مِن قَبْلُ وَأَضَلُّواْ كَثِيراً وَضَلُّواْ عَن سَوَاء السَّبِيلِ

“…’janganlah kalian melampaui batas dalam agama kalian dengan cara yang tidak benar. Dan janganlah kalian mengikuti hawa nafsu orang-orang dahulu yang telah sesat [yakni, sebelum kedatangan Muhammad] dan yang  telah menyesatkan kebanyakan orang. Mereka tersesat dari jalan yang lurus’.” (QS. Al Ma-idah: 77)

Perkara kesepuluh, berdalil akan batilnya satu agama dengan lemahnya pemahaman para pemeluknya dan tiadanya hafalan mereka, seperti ucapan mereka,

بَادِيَ الرَّأْيِ

“…yang mudah percaya saja…” (QS. Hud: 27)

Perkara kesebelas, berdalil dengan kias yang rusak, seperti ucapan mereka,

إِنْ أَنتُمْ إِلاَّ بَشَرٌ مِّثْلُنَا

“…’Engkau tidak lain kecuali manusia seperti kami [juga]’…”. (QS. Ibrahim: 10)

Perkara kedua belas, mengingkari kias yang benar. Dan yang menggabungkan hal ini dan yang sebelum ini adalah tiadanya pemahaman tentang kaedah “sesuatu yang mengumpulkan” dan “sesuatu yang membedakan.”

Perkara ketiga belas, bersikap fanatik kepada para ulama dan orang-orang shalih, seperti firman Allah,

يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لاَ تَغْلُواْ فِي دِينِكُمْ وَلاَ تَقُولُواْ عَلَى اللّهِ إِلاَّ الْحَقِّ

“Wahai ahlul kitab, janganlah kalian melampaui batas dalam agama kalian. Dan janganlah kalian berkata tentang Allah, kecuali perkataan yang haq.” (QS. An Nisa’: 171)

Perkara keempat belas, semua yang telah disebutkan ini dibangun di atas satu kaedah, yaitu penafian dan penetapan. Maka, mereka mengikuti hawa nafsu dan persangkaan belaka dan menolak apa yang dibawa para rasul.

Perkara kelima belas, mereka beralasan tidak mau mengikuti apa yang datang dari Allah karena tidak memahami, seperti ucapan,

قُلُوبُنَا غُلْفٌ

“…’Hati-hati kami terkunci’.” (QS. Al Baqarah: 88)

يَا شُعَيْبُ مَا نَفْقَهُ كَثِيراً مِّمَّا تَقُولُ

“…’Wahai Syu’aib, kami tidak banyak mengerti apa yang engkau katakan itu…’.” (QS. Hud: 91)

Maka, Allah dustakan mereka. Dan Allah menjelaskan bahwa itu semua karena tertutupnya hati-hati mereka dan tertutupnya hati mereka karena sebab kekafiran mereka.

Perkara keenam belas, mereka mengganti apa-apa yang datang dari Allah kepada mereka dengan buku-buku sihir, sebagaimana yang Allah sebutkan dalam firmanNya,

نَبَذَ فَرِيقٌ مِّنَ الَّذِينَ أُوتُواْ الْكِتَابَ كِتَابَ اللّهِ وَرَاء ظُهُورِهِمْ كَأَنَّهُمْ لاَ يَعْلَمُونَ . وَاتَّبَعُواْ مَا تَتْلُواْ الشَّيَاطِينُ عَلَى مُلْكِ سُلَيْمَانَ .

“…sebagian orang yang diberi kitab [Taurat] melemparkan kitab Allah itu ke belakang punggung-punggung mereka, seolah-olah mereka tidak mengetahui [bahwa itu kitab Allah], dan mengikuti apa yang dibaca oleh setan-setan pada masa kerajaan Sulaiman.” (QS. Al Baqarah: 101-102)

Perkara ketujuh belas, menyandarkan kebatilan mereka kepada para nabi, seperti firman Allah,

وَمَا كَفَرَ سُلَيْمَانُ

“…dan Nabi Sulaiman tidak kafir.” (QS. Al Baqarah: 102)

Dan firmanNya,

مَا كَانَ إِبْرَاهِيمُ يَهُودِيّاً وَلاَ نَصْرَانِيّاً

“Ibrahim bukanlah seorang Yahudi. Bukan pula seorang Nasrani.” (QS. Ali Imran: 67)

Perkara kedelapan belas, bertolak-belakangnya mereka dalam menisbatkan diri. Mereka menisbatkan kepada Nabi Ibrahim ‘alaihis salam seraya menampakkan penolakan mereka untuk mengikuti beliau.

Perkara kesembilan belas, mereka mencela sebagian orang shalih dengan perbuatan sebagian orang yang menisbatkan diri kepada orang-orang shalih itu seperti celaan orang-orang Yahudi kepada Nabi Isa ‘alaihis salam dan celaan orang-orang Yahudi dan Nasrani kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Perkara kedua puluh, mereka meyakini bahwa hal-hal di luar kebiasaan yang ada pada para penyihir dan yang semisalnya termasuk dari karamah orang-orang shalih dan menyandarkan hal itu kepada para nabi, sebagaimana mereka menyandarkannya kepada Nabi Sulaiman ‘alaihis salam.

Perkara kedua puluh satu, mereka beribadah dengan bersiul dan bertepuk-tangan.

Perkara kedua puluh dua, mereka menjadikan agama mereka senda-gurau dan permainan.

Perkara kedua puluh tiga, kehidupan dunia menipu mereka. Mereka mengira bahwa pemberian Allah [kepada mereka] menunjukkan akan ridho Allah, sebagaimana ucapan mereka,

نَحْنُ أَكْثَرُ أَمْوَالاً وَأَوْلَاداً وَمَا نَحْنُ بِمُعَذَّبِينَ

“…’Kami lebih banyak harta dan anak-anak. Dan kami sekali-kali tidak akan diazab’.” (QS. Saba’: 35)

Perkara kedua puluh empat, tidak mau masuk ke dalam al haq, jika telah didahului oleh orang-orang lemah, karena sombong dan keras kepala. Maka, Allah ta’ala turunkan,

وَلاَ تَطْرُدِ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُم

“Dan janganlah engkau mengusir orang-orang yang menyeru Rabb mereka.” (QS. Al An’am: 52)

Perkara kedua puluh lima, berdalil tentang kebatilan sesuatu dengan didahuluinya hal tersebut orang-orang lemah, seperti firman Allah,

لَوْ كَانَ خَيْراً مَّا سَبَقُونَا إِلَيْهِ

“…’Kalau sekiranya [dalam Al Qur’an] ada sesuatu yang baik, tentulah mereka tiada mendahului kami [dalam beriman] kepadanya’.” (QS. Al Ahqaf: 11)

Perkara kedua puluh enam, mengubah kitab Allah dengan apa-apa yang mereka pikirkan, sedangkan mereka menyadari hal itu.

Perkara kedua puluh tujuh, menyusun kitab-kitab batil dan menyandarkannya kepada Allah, seperti firman Allah,

فَوَيْلٌ لِّلَّذِينَ يَكْتُبُونَ الْكِتَابَ بِأَيْدِيهِمْ ثُمَّ يَقُولُونَ هَـذَا مِنْ عِندِ اللّهِ

“Maka, kecelakaanlah bagi orang-orang yang menulis kitab dengan tangan mereka, lalu berkata, ‘Ini dari Allah’.” (QS. Al Baqarah: 79)

Perkara kedua puluh delapan, bahwasanya mereka tidak menerima al haq, kecuali yang menguntungkan kelompok mereka, seperti firman Allah,

قَالُواْ نُؤْمِنُ بِمَا أُنزِلَ عَلَيْنَا

“Mereka mengatakan, ‘Kami beriman kepada apa yang diturunkan kepada kami’.” (QS. Al Baqarah: 91)

Perkara kedua puluh sembilan, bersamaan dengan itu, mereka tidak mengerti apa yang dikatakan kelompok mereka itu, sebagaimana ditekankan oleh Allah ta’ala tentangnya melalui firmanNya,

قُلْ فَلِمَ تَقْتُلُونَ أَنبِيَاءَ اللّهِ مِن قَبْلُ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ

“Katakan, ‘Kalau demikian, mengapa kalian dulu membunuh nabi-nabi Allah, jika benar kalian orang-orang yang beriman?’.” (QS. Al Baqarah: 91)

Perkara ketiga puluh, termasuk tanda-tanda Allah yang mengherankan adalah bahwa mereka betul-betul meninggalkan wasiat Allah untuk bersatu dan melakukan apa yang Allah larang berupa berpecah-belah. Jadilah mereka senang dengan apa yang ada pada setiap kelompok mereka.

Perkara ketiga puluh satu, termasuk tanda-tanda [Allah] yang mengherankan juga adalah mereka memusuhi agama yang mereka menyandarkan diri kepadanya dengan sebetul-betulnya permusuhan dan mereka mencintai agama orang-orang kafir yang memusuhi mereka dan nabi mereka serta kelompok mereka dengan sebetul-betulnya kecintaan. Seperti yang mereka lakukan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ketika beliau mendatangi mereka dengan agama Nabi Musa ‘alaihis salam. Mereka pun [memilih] mengikuti kitab-kitab sihir yang itu adalah agama pengikut-pengikut Fir’aun.

Perkara ketiga puluh dua, mereka mengingkari al haq jika dibawa oleh orang yang mereka hinakan, sebagaimana yang Allah ta’ala firmankan,

وَقَالَتِ الْيَهُودُ لَيْسَتِ النَّصَارَى عَلَىَ شَيْءٍ وَقَالَتِ النَّصَارَى لَيْسَتِ الْيَهُودُ عَلَى شَيْءٍ

“Orang-orang Yahudi berkata, ‘Orang-orang Nasrani itu tidak memiliki satu rujukan’. Orang-orang Nasrani berkata, ‘Orang-orang Yahudi tidak memiliki satu rujukan’.” (QS. Al Baqarah: 113)

Perkara ketiga puluh tiga, mereka mengingkari apa yang telah mereka tetapkan bahwa itu termasuk dari agama mereka, sebagaimana yang mereka lakukan pada haji di Ka’bah. Maka, Allah ta’ala berfirman,

وَمَن يَرْغَبُ عَن مِّلَّةِ إِبْرَاهِيمَ إِلاَّ مَن سَفِهَ نَفْسَهُ

“Dan tidak ada yang membenci agama Ibrahim, kecuali orang yang memperbodoh dirinya sendiri…” dan seterusnya. (QS. Al Baqarah: 130)

Perkara ketiga puluh empat, setiap kelompok mengaku-ngaku sebagai kelompok yang selamat. Maka, Allah dustakan mereka melalui firmanNya,

هَاتُواْ بُرْهَانَكُمْ إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ

“…’Tunjukkan bukti kebenaran kalian, jika betul kalian orang-orang yang benar’.” (QS. Al Baqarah: 111)

Kemudian, Allah terangkan kebenarannya melalui firmanNya,

بَلَى مَنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ

“Tidak seperti itu. Bahkan, siapa saja yang menyerahkan diri kepada Allah, sedangkan ia berbuat kebaikan…” dan seterusnya. (QS. Al Baqarah: 112)

Perkara ketiga puluh lima, beribadah dengan membuka aurat-aurat [mereka]. Seperti firmanNya,

وَإِذَا فَعَلُواْ فَاحِشَةً قَالُواْ وَجَدْنَا عَلَيْهَا آبَاءنَا وَاللّهُ أَمَرَنَا بِهَا

“Jika mereka melakukan perbuatan keji, mereka mengatakan, ‘Kami dapati nenek-moyang kami mengerjakan seperti ini dan Allah menyuruh kami mengerjakan ini’.” (QS. Al A’raf: 28)

Perkara ketiga puluh enam, beribadah dengan mengharamkan yang halal, sebagaimana mereka beribadah dengan kesyirikan.

Perkara ketiga puluh tujuh, beribadah dengan menjadikan ulama-ulama dan rahib-rahib mereka sebagai sesembahan selain Allah.

Perkara ketiga puluh delapan, melakukan penyimpangan dalam sifat-sifat Allah. Seperti firman Allah ta’ala,

وَلَكِن ظَنَنتُمْ أَنَّ اللَّهَ لَا يَعْلَمُ كَثِيراً مِّمَّا تَعْمَلُونَ

“Akan tetapi, kalian mengira bahwa Allah tidak mengetahui kebanyakan apa yang kalian kerjakan.” (QS. Fushilat: 22)

Perkara ketiga puluh sembilan, melakukan penyimpangan dalam nama-nama Allah, seperti firman Allah,

وَهُمْ يَكْفُرُونَ بِالرَّحْمَـنِ

“…dan mereka mengufuri Ar Rahman.” (QS. Ar Ra’du: 30)

Perkara keempat puluh, menafikan nama-nama dan sifat-sifat Allah [baik sebagian atau keseluruhan] seperti ucapan Fir’aun.

Perkara keempat puluh satu, menisbatkan kepada Allah subhanahu wa ta’ala hal-hal yang tidak sempurna seperti “anak”, “membutuhkan”, dan “lelah”, seraya menyucikan rahib-rahib mereka dari sebagian hal-hal tersebut.

Perkara keempat puluh dua, menyekutukan Allah dalam masalah kekuasaan seperti ucapan orang-orang Majusi.

Perkara keempat puluh tiga, menentang takdir Allah.

Perkara keempat puluh empat, berdalih karena Allah [ketika melakukan kemaksiatan].

Perkara keempat puluh lima, menentang syariat Allah dengan takdirNya.

Perkara keempat puluh enam, mencela waktu, seperti ucapan mereka,

وَمَا يُهْلِكُنَا إِلَّا الدَّهْرُ

“…’dan tidak ada yang membinasakan kami, kecuali waktu’.” (QS Al Jatsiyah: 24)

Perkara keempat puluh tujuh, menyandarkan kenikmatan-kenikmatan dari Allah kepada selainNya, seperti firman Allah,

يَعْرِفُونَ نِعْمَةَ اللّهِ ثُمَّ يُنكِرُونَهَا

“Mereka mengetahui nikmat Allah, lalu mereka mengingkarinya.” (QS. An Nahl: 83)

Perkara keempat puluh delapan, kufur terhadap ayat-ayat Allah.

Perkara keempat puluh sembilan, menolak sebagian ayat-ayat Allah.

Perkara kelima puluh, firman Allah,

مَا أَنزَلَ اللّهُ عَلَى بَشَرٍ مِّن شَيْءٍ

“…[Mereka mengucapkan,] ’Allah tidak menurunkan apapun kepada manusia’.” (QS. Al An’am: 91)

Perkara kelima puluh satu, ucapan mereka di dalam Al Qur-an,

إِنْ هَذَا إِلَّا قَوْلُ الْبَشَرِ

“Ini tidak lain hanyalah perkataan manusia.” (QS. Al Muddatstsir: 25)

Perkara kelima puluh dua, mempertanyakan hikmah dari Allah ta’ala.

Perkara kelima puluh tiga, memkilah dengan sesuatu yang jelas ataupun yang samar untuk menolak apa-apa yang datang dari para rasul, seperti firman Allah ta’ala,

وَمَكَرُواْ وَمَكَرَ اللّهُ

“Mereka membuat makar dan Allah membalas makar [mereka].” (QS. Ali Imran: 54)

Dan firman Allah ta’ala,

وَقَالَت طَّآئِفَةٌ مِّنْ أَهْلِ الْكِتَابِ آمِنُواْ بِالَّذِيَ أُنزِلَ عَلَى الَّذِينَ آمَنُواْ وَجْهَ النَّهَارِ وَاكْفُرُواْ آخِرَهُ

“Segolongan [lainnya] dari Ahlul Kitab mengatakan, ‘Perlihatkanlah [seolah-olah] kalian beriman kepada apa yang diturunkan kepada orang-orang beriman [sahabat-sahabat Rasulullah] pada permulaan siang dan ingkarilah pada akhir siang…”. (QS. Ali Imran: 72)

Perkara kelima puluh empat, mengakui al haq dengan maksud agar bisa menolaknya, sebagaimana disebutkan di ayat sebelum ini.

Perkara kelima puluh lima, fanatik buta terhadap satu mazhab, seperti firman Allah ta’ala tentang itu,

وَلاَ تُؤْمِنُواْ إِلاَّ لِمَن تَبِعَ دِينَكُمْ

“Dan janganlah kalian percaya, kecuali kepada siapa saja yang mengikuti agama kalian.” (QS. Ali Imran: 73)

Perkara kelima puluh enam, menyebut kaum muslimin dengan kesyirikan, sebagaimana disebutkan di dalam firman Allah,

مَا كَانَ لِبَشَرٍ أَن يُؤْتِيَهُ اللّهُ الْكِتَابَ وَالْحُكْمَ وَالنُّبُوَّةَ ثُمَّ يَقُولَ لِلنَّاسِ كُونُواْ عِبَاداً لِّي مِن دُونِ اللّهِ

“Tidak sepantasnya seseorang manusia—yang Allah berikan kepadanya kitab suci, hikmah dan kenabian kemudian—berkata kepada orang-orang, ‘Hendaklah kalian menjadi penyembah-penyembahku. Bukan penyembah Allah’.” (QS. Ali Imran: 79)

Perkara kelima puluh tujuh, mengubah ucapan-ucapan [Allah] dari makna-maknanya.

Perkara kelima puluh delapan, bersilat-lidah menggunakan ayat-ayat Allah.

Perkara kelima puluh sembilan, menjuluki orang-orang yang mendapat hidayah sebagai kaum shaba’ [orang-orang yang pindah kepercayaan] dan kaum hasyawiyah [orang-orang yang terpaku pada teks].

Perkara keenam puluh, berdusta atas nama Allah.

Perkara keenam puluh satu, mendustakan al haq.

Perkara keenam puluh dua, jika kalah dalam hujjah mereka biasa bersegera mengadu kepada penguasa, sebagaimana yang mereka katakan,

أَتَذَرُ مُوسَى وَقَوْمَهُ لِيُفْسِدُواْ فِي الأَرْضِ

“…’[Mereka berkata,] ‘Apakah engkau membiarkan Musa dan kaumnya berbuat kerusakan di negeri ini?’.” (QS. Al A’raf: 127)

Perkara keenam puluh tiga, mereka menuduh orang-orang yang mengalahkan mereka dengan hujjah itu sebagai pembuat kerusakan di muka bumi, sebagaimana disebutkan di ayat sebelum ini.

Perkara keenam puluh empat, mereka menuduh orang-orang yang mengalahkan mereka dengan hujjah itu mencela agama penguasa, sebagaimana Allah ta’ala firmankan,

وَيَذَرَكَ وَآلِهَتَكَ

“…’dan meninggalkanmu serta sembahan-sembahanmu’.” (QS. Al A’raf: 127)

Dan sebagaimana Allah ta’ala berfirman,

إِنِّي أَخَافُ أَن يُبَدِّلَ دِينَكُمْ

“…’sesungguhnya aku khawatir ia akan mengganti agama kalian’.” (QS. Ghafir: 26)

Perkara keenam puluh lima, mereka menuduh orang-orang yang mengalahkan mereka dengan hujjah itu mencela sembahan penguasa, sebagaimana di ayat yang disebutkan sebelum ini.

Perkara keenam puluh enam, mereka menuduh orang-orang yang mengalahkan mereka dengan hujjah itu mengganti agama, sebagaimana Allah ta’ala berfirman,

إِنِّي أَخَافُ أَن يُبَدِّلَ دِينَكُمْ أَوْ أَن يُظْهِرَ فِي الْأَرْضِ الْفَسَادَ

“…’sesungguhnya aku khawatir ia akan mengganti agama kalian atau membuat kerusakan di muka bumi’.” (QS. Ghafir: 26)

Perkara keenam puluh tujuh, mereka menuduh orang-orang yang mengalahkan mereka dengan hujjah itu mencela penguasa, seperti ucapan mereka,

وَيَذَرَكَ وَآلِهَتَكَ

“…’dan meninggalkanmu serta sembahan-sembahanmu’.” (QS. Al A’raf: 127)

Perkara keenam puluh delapan, mereka mengaku-ngaku beramal dengan al haq yang ada pada mereka, seperti ucapan mereka,

نُؤْمِنُ بِمَا أُنزِلَ عَلَيْنَا

“…’Kami beriman dengan apa-apa yang diturunkan kepada kami’ (QS. Al Baqarah: 91)” seraya meninggalkan apa-apa yang ada pada mereka itu.

Perkara keenam puluh sembilan, menambah-nambah dalam ibadah, seperti perbuatan mereka pada hari Asyura’.

Perkara ketujuh puluh, mengurangi-ngurangi dalam ibadah, seperti meninggalkan wukuf di Arafah.

Perkara ketujuh puluh satu, mereka meninggalkan kewajiban-kewajiban dengan alasan menjaga kehormatan diri.

Perkara ketujuh puluh dua, mereka beribadah dengan meninggalkan rejeki yang baik.

Perkara ketujuh puluh tiga, mereka beribadah dengan meninggalkan berhias kepada Allah.

Perkara ketujuh puluh empat, mengajak manusia ke dalam kesesatan atas dasar kebodohan.

Perkara ketujuh puluh lima, mengajak manusia dengan sengaja kepada kekafiran.

Pekara ketujuh puluh enam, membuat makar yang besar, seperti perbuatan kaum Nuh ‘alaihis salam.

Perkara ketujuh puluh tujuh, pemimpin-pemimpin mereka itu, jika bukan ulama-ulama yang jahat, maka ahli-ahli ibadah yang bodoh. Seperti dalam firman Allah ta’ala,

وَقَدْ كَانَ فَرِيقٌ مِّنْهُمْ يَسْمَعُونَ كَلاَمَ اللّهِ ثُمَّ يُحَرِّفُونَهُ مِن بَعْدِ مَا عَقَلُوهُ وَهُمْ يَعْلَمُونَ . وَإِذَا لَقُواْ الَّذِينَ آمَنُواْ قَالُواْ آمَنَّا وَإِذَا خَلاَ بَعْضُهُمْ إِلَىَ بَعْضٍ قَالُواْ أَتُحَدِّثُونَهُم بِمَا فَتَحَ اللّهُ عَلَيْكُمْ لِيُحَآجُّوكُم بِهِ عِندَ رَبِّكُمْ أَفَلاَ تَعْقِلُونَ . أَوَلاَ يَعْلَمُونَ أَنَّ اللّهَ يَعْلَمُ مَا يُسِرُّونَ وَمَا يُعْلِنُونَ . وَمِنْهُمْ أُمِّيُّونَ لاَ يَعْلَمُونَ الْكِتَابَ إِلاَّ أَمَانِيَّ

“…’padahal segolongan dari mereka mendengar firman Allah, lalu mereka mengubahnya setelah mereka memahaminya, sedang mereka mengetahui? Dan jika mereka bertemu dengan orang-orang beriman, mereka mengatakan, ‘Kami telah beriman’. Namun jika mereka berada sesama mereka saja, mereka mengatakan, ‘Apakah kalian menceritakan kepada mereka (orang-orang beriman) apa yang telah diterangkan Allah kepada kalian agar dapat ber-hujjah di hadapan Rabb kalian? Tidakkah kalian mengerti?’. Tidakkah mereka mengetahui bahwa Allah mengetahui segala yang mereka sembunyikan dan segala yang mereka ungkapkan? Dan di antara mereka ada yang ummi [buta huruf] yang tidak mengetahui Taurat, kecuali [sebagai] dongeng belaka…”. (QS. Al Baqarah: 75-78)

Perkara ketujuh puluh delapan, mereka mengaku merekalah wali-wali Allah yang berbeda dari manusia lainnya.

Perkara ketujuh puluh sembilan, mereka mengaku-ngaku mencintai Allah seraya meninggalkan syariatNya. Maka, Allah pun menuntut mereka melalui firmanNya,

قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

“Katakan, ‘Jika memang kalian mencintai Allah, maka ikutilah aku. Allah akan mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian’. Dan Allah-lah yang maha pengampun lagi maha penyayang.” (QS. Ali Imran: 31)

Perkara kedelapan puluh, mereka berangan-angan dengan kedustaan, seperti ucapan mereka,

لَن تَمَسَّنَا النَّارُ إِلاَّ أَيَّاماً مَّعْدُودَةً

“…’Kami tidak akan disentuh api Neraka, kecuali hanya beberapa hari saja’.” (QS. Al Baqarah: 80)

Dan ucapan mereka,

لَن يَدْخُلَ الْجَنَّةَ إِلاَّ مَن كَانَ هُوداً أَوْ نَصَارَى

“…’Tidak akan masuk ke dalam Surga, kecuali Yahudi atau Nasrani’.” (QS. Al Baqarah: 111)

Perkara kedelapan puluh satu, mereka menjadikan kuburan nabi-nabi dan orang-orang shalih mereka sebagai tempat-tempat ibadah.

Perkara kedelapan puluh dua, mereka menjadikan bekas-bekas peninggalan nabi-nabi mereka sebagai tempat-tempat ibadah, sebagaimana disebutkan oleh Umar radhiyallahu ‘anhu.

Perkara kedelapan puluh tiga, membuat lentera-lentera di kuburan.

Perkara kedelapan puluh empat, menjadikan kuburan-kuburan sebagai tempat-tempat perayaan.

Perkara kedelapan puluh lima, berkurban di kuburan-kuburan.

Perkara kedelapan puluh enam, mencari berkah dengan peninggalan tokoh-tokoh mereka, seperti Dar An Nadwah [aula tempat bermusyawarah tokoh-tokoh musyrikin Quraisy] dan berbangga-bangga dengan memiliki peninggalan itu, sebagaimana pernah dikatakan kepada Hakim bin Hizam radhiyallahu ‘anhu, “Engkau telah menjual pusaka Quraisy.” Maka, beliau radhiyallahu ‘anhu menjawab, “Pusaka-pusaka itu telah lenyap, kecuali ketakwaan.”

Perkara kedelapan puluh tujuh, berbangga-bangga dengan kedudukan.

Perkara kedelapan puluh delapan, mencela nasab.

Perkara kedelapan puluh sembilan, meminta hujan kepada bintang-bintang.

Perkara kesembilan puluh, meratapi kematian.

Perkara kesembilan puluh satu, keutamaan mereka yang paling besar adalah kezaliman. Maka, Allah singgung itu dalam apa yang telah disebutkan.

Perkara kesembilan puluh dua, keutamaan mereka yang paling besar adalah sombong, meskipun dengan al haq. Maka, Allah larang hal itu.

Perkara kesembilan puluh tiga, bagi mereka fanatik buta seseorang kepada kelompoknya di atas al haq ataupun kebatilan adalah perkara yang mesti. Maka, Allah singgung itu dalam apa yang telah disebutkan.

Perkara kesembilan puluh empat, termasuk agama orang-orang jahiliyyah adalah menimpakan perbuatan dosa seseorang kepada orang lain. Maka, Allah turunkan,

وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى

“Dan orang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain.” (QS. Fathir: 18)

Perkara kesembilan puluh lima, mencela seseorang dengan apa yang dikerjakan orang lain. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَعَيَّرْتَهُ بِأُمِّهِ ؟ إِنَّكَ امْرُؤٌ فِيْكَ جَهِلِيَّة

“Apakah engkau cela ia dengan apa yang ada pada ibunya? Sungguh, pada dirimu ada sesuatu dari perkara-perkara jahiliyyah.” [HR. Bukhari dan Muslim]

Perkara kesembilan puluh enam, berbangga-bangga karena mengurusi Ka’bah. Maka, Allah cela mereka melalui firmanNya,

مُسْتَكْبِرِينَ بِهِ سَامِراً تَهْجُرُونَ

“Dengan berbangga-bangga terhadap Al Qur-an dan mengucapkan kata-kata kotor terhadapnya di waktu kalian bercakap-cakap di malam hari.” (QS. Al Mu’minun: 67)

Perkara kesembilan puluh tujuh, berbangga-bangga sebagai keturunan para nabi. Maka, Allah datangkan firmanNya kepada mereka,

تِلْكَ أُمَّةٌ قَدْ خَلَتْ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَلَكُم مَّا كَسَبْتُمْ وَلاَ تُسْأَلُونَ عَمَّا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Itu adalah umat yang terdahulu. Bagi mereka apa yang telah diusahakan mereka dan bagi kalian apa yang sudah kalian usahakan. Dan kalian tidak akan dimintai tanggung-jawab tentang apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al Baqarah: 134)

Perkara kesembilan puluh delapan, berbangga-bangga dengan pekerjaan-pekerjaan mereka, seperti ucapan para pedagang kepada para penggarap tanah.

Perkara kesembilan puluh sembilan, menjadikan dunia agung di dalam hati-hati mereka, seperti ucapan mereka,

لَوْلَا نُزِّلَ هَذَا الْقُرْآنُ عَلَى رَجُلٍ مِّنَ الْقَرْيَتَيْنِ عَظِيمٍ

“…’Mengapa Al Qur-an tidak diturunkan kepada tokoh salah satu dari dua negeri ini [Mekkah dan Tha-if]?’.” (QS. Az Zukhruf: 31)

Perkara keseratus, menghakimi Allah sebagaimana yang ada di ayat itu [Surat Az Zukhruf ayat 31].

Perkara keseratus satu, melecehkan orang-orang fakir. Maka, Allah datangkan kepada mereka firmanNya,

وَلاَ تَطْرُدِ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُم بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ

“Dan janganlah engkau mengusir orang-orang yang menyeru Rabb mereka di waktu pagi dan petang.” (QS. Al An’am: 52)

Perkara keseratus dua, menuduh pengikut-pengikut para rasul tidak memiliki keikhlasan dan mencari dunia. Maka, Allah jawab mereka itu dengan firmanNya,

مَا عَلَيْكَ مِنْ حِسَابِهِم مِّن شَيْءٍ

“Engkau tidak memikul tanggung-jawab sedikit pun atas perbuatan mereka” (QS. Al An’am: 52) dan yang semisalnya.

Perkara keseratus tiga, kafir terhadap malaikat.

Perkara keseratus empat, kafir terhadap para rasul.

Perkara keseratus lima, kafir terhadap kitab-kitab Allah.

Perkara keseratus enam, berpaling dari apa-apa yang datang dari Allah.

Perkara keseratus tujuh, kafir terhadap hari kiamat.

Perkara keseratus delapan, mendustakan perjumpaan dengan Allah nanti.

Perkara keseratus sembilan, mendustakan sebagian yang dikabarkan para rasul tentang hari kiamat, sebagaimana dalam firmanNya,

أُولَئِكَ الَّذِينَ كَفَرُوا بِآيَاتِ رَبِّهِمْ وَلِقَائِهِ

“Mereka itu orang-orang yang telah kufur terhadap ayat-ayat Rabb mereka dan perjumpaan denganNya.” (QS. Al Kahfi: 105)

Di antaranya juga mendustakan firmanNya,

مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ

“Penguasa hari akhir.” (QS. Al Fatihah: 3)

Dan firmanNya,

يَوْمٌ لاَّ بَيْعٌ فِيهِ وَلاَ خُلَّةٌ وَلاَ شَفَاعَةٌ

“…hari yang tidak ada jual-beli, cinta-kasih, dan syafaat.” (QS. Al Baqarah: 254)

Juga,

إِلَّا مَن شَهِدَ بِالْحَقِّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ

“…kecuali orang yang mengakui al haq [tauhid] dan mereka meyakininya.” (QS. Az Zukhruf: 68)

Perkara keseratus sepuluh, membunuh orang-orang yang memerintah dengan keadilan di tengah-tengah manusia.

Perkara keseratus sebelas, beriman kepada setan-setan dan thaghut-thaghut.

Perkara keseratus dua belas, lebih mengutamakan agama orang-orang musyrik daripada agama Islam.

Perkara keseratus tiga belas, mencampur al haq dengan kebatilan.

Perkara keseratus empat belas, menyembunyikan al haq setelah mengetahuinya.

Perkara keseratus lima belas, [memegang] kaedah sesat, yaitu berkata tentang Allah tanpa ilmu.

Perkara keseratus enam belas, saling mempertentangkan perkara yang jelas ketika mereka mendustakan al haq, sebagaimana firman Allah ta’ala,

بَلْ كَذَّبُوا بِالْحَقِّ لَمَّا جَاءهُمْ فَهُمْ فِي أَمْرٍ مَّرِيجٍ

“Akan tetapi, mereka dustakan al haq ketika al haq itu datang kepada mereka. Maka, mereka pun berada dalam kekacauan.” (QS. Qaf: 5)

Perkara keseratus tujuh belas, mengimani sebagian yang diturunkan Allah tanpa sebagian yang lain.

Perkara keseratus delapan belas, membeda-bedakan para rasul.

Perkara keseratus sembilan belas, memperdebatkan apa-apa yang mereka tidak miliki ilmunya.

Perkara keseratus dua puluh, mengaku-ngaku sebagai para pengikut rasul terdahulu seraya mempertontonkan penyelisihan mereka.

Perkara keseratus dua puluh satu, menghalangi orang-orang yang beriman dari jalan Allah.

Perkara keseratus dua puluh dua, mencintai kekafiran dan orang-orang kafir.

Perkara keseratus dua puluh tiga, keseratus dua puluh empat, keseratus dua puluh lima, keseratus dua puluh enam, keseratus dua puluh tujuh, dan keseratus dua puluh delapan: al ‘iyafah [menduga-duga nasib lewat tingkah-laku burung-burung tertentu], ath tharq [meramal nasib lewat garis-garis yang dibuat di tanah oleh dukun atau tukang sihir], thiyarah [persangkaan sial], kahanah [perdukunan], berhukum kepada thaghut, dan tidak mau menikahkan dua orang budak.

Wallahu a’lam.

و صلّى اللهُ على محمد وعلى آله وصحبه وسل

Source :

  • dakwahislam.net
  • Ra-id bin Shabri bin Abi ‘Ulfah. Majmu’ Mu-allifat Asy Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab rahimahullah (1115 – 1206 H): Juz I. Ttp: Tpn. Tth, halaman 129-135.

11/25/2016

8 Selebriti Ini Dulunya Kurus, Tapi Sekarang Memiliki Badan Atletis

8 Selebriti Ini Dulunya Kurus, Tapi Sekarang Memiliki Badan Atletis - Setiap orang dapat merubah hidupnya sesuai dengan keinginan dengan cara kerja keras untuk mencapai hasil yang diinginkannya. Tidak hanya masalah keungan, masalah bentuk badanpun diperlukan kerja keras yang ekstra untuk mendapatkan bentuk badan yang diinginkan. Termasuk delapan selebritis Indonesia yang berikut ini. Dulunya memiliki badan kurus, berkat kerja keras disertai latihan khusus di gym, sekarang kedelapan selebriti ini memiliki badan yang seksi dan atletis.

Yuk kita lihat pict kedelapan selebriti Indonesia yang dulunya kurus sekarang lebih seksi dengan memiliki badan atletis.

1. Andrew White

Image Credit : Kapanlagi.com
Andrew White dulunya memiliki badan yang kurus, namun sekarang badannya sudah seksi, berotot dan membuat penggemarnya semakin cinta.

2. Ganindra Bimo

Image Credit : Kapanlagi.com
Presenter yang bernama lengkap Ganindra Bimo dulunya memiliki badan yang lumayan kurus, namun setelah workout, kamu lihat sendiri pict diatas bagaimana bentuk badan yang dimilikinya sekarang

3. Tarra Budiman

Image Credit : Kapanlagi.com
Selain itu, Tarra Budiman juga memiliki penampilan berbeda. Dulunya sih kurang berotot, sekarang tampak lebih berotot dan seksi.

4. Randy Pangalila

Image Credit : Kapanlagi.com
Selebrities yang memiliki badan seksi selanjutnya Randy Pangalila. Penampilannya kini lebih macho dan bikin greget para kaum hawa.

5. Fero Walandouw 

Image Credit : Kapanlagi.com
Tak mau kalah dengan selebrities lainnya, Fero Walandouw juga memiliki badan yang macho dan seksi, berkat kerja kerasnya untuk membentuk tubuh yang sehat dan tentunya berotot biar semakin seksi.

6. Miller

Image Credit : Kapanlagi.com
Bule yang satu ini semenjak merintis karir di indonesia, banyak berolahraga agar penampilannya terlihat keren dan macho.

7. Mike Lewis

Image Credit : Kapanlagi.com
Tidak hanya bermodalkan wajah tampan, Mike Lewis juga melengkapinya dengan otot-otot yang kekar. Yang bisa membuat para wanita klepek-klepek.

8.  Deddy Corbuzier

Image Credit : Kapanlagi.com
Sama halnya seperti ketujuh selebrities diatas, kini Deddy Corbuzier memiliki tubuh yang atletis, berotot, kekar dan seksi.



11/24/2016

10 Perkara Yang Dapat Menyebabkan Seorang Muslim Keluar Dari Agamanya

Perkara yang Dapat Mengeluarkan Seorang Muslim dari Agamanya - Dalam satu risalah ringkas yang berjudul Nawaqidhul Islam, Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab rahimahullahu ta’ala menyebutkan,

10 Perkara Yang Dapat Menyebabkan Seorang Muslim Keluar Dari Agamanya


Ketahuilah, pembatal-pembatal keislaman itu ada sepuluh.

Pertama, syirik dalam beribadah kepada Allah ta’ala. Allah ta’ala berfirman,

إِنَّ اللّهَ لاَ يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَن يَشَاءُ

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik dan Dia akan mengampuni dosa di bawah syirik bagi siapa yang dikehendakiNya.” (QS. An Nisa’: 116)

Dan Allah juga berfirman,

إِنَّهُ مَن يُشْرِكْ بِاللّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللّهُ عَلَيهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنصَارٍ

“Sesungguhnya yang menyekutukan Allah, maka Allah pasti akan mengharamkan Surga untuknya dan tempatnya nanti adalah di Neraka. Dan tidaklah ada seorang penolong pun bagi orang-orang zalim itu.” (QS. Al Ma-idah: 72)

Di antaranya adalah menyembelih untuk selain Allah, seperti seseorang yang menyembelih untuk jin atau kuburan.

Kedua, siapa saja yang menjadikan antara dirinya dan Allah perantara-perantara tempat ia berdoa dan meminta syafaat serta bertawakkal kepada perantara-perantara itu, maka ia kafir secara ijma’.

Ketiga, siapa saja yang tidak mengafirkan orang-orang musyrik, sangsi dengan kekafiran mereka atau membenarkan mazhab mereka, maka ia kafir.

Keempat, siapa saja yang meyakini bahwa selain petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih sempurna dari petunjuk nabi atau ada hukum yang lebih baik dari hukum Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam—seperti lebih mengutamakan hukum-hukum para thaghut daripada hukum beliau, maka ia telah kafir.

Kelima, siapa saja yang membenci sesuatu yang datang dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam—meskipun ia mengamalkannya, maka ia pasti kafir.

Keenam, siapa saja yang mengolok-olok sesuatu dari agama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, balasan Allah, azab Allah, maka ia kafir. Dan dalilnya adalah firman Allah ta’ala,

لاَ تَعْتَذِرُواْ قَدْ كَفَرْتُم بَعْدَ إِيمَانِكُمْ

“Tidak usah kalian cari-cari alasan, karena kalian telah kafir sesudah beriman.” (QS. At Taubah: 66)

Ketujuh, sihir. Dan termasuk darinya adalah sihir yang memisahkan dua orang yang mencntai dan sihir yang mengeratkan dua orang yang saling membenci. Siapa saja yang mengerjakannya atau ridho dengan hal itu, maka ia telah kafir. Dalilnya adalah firman Allah ta’ala,

وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّى يَقُولاَ إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلاَ تَكْفُرْ

“…dan keduanya [Harut dan Marut] tidak mengajarkan [sesuatu] kepada siapa pun hingga mereka berdua mengatakan, ‘Sesungguhnya kami hanyalah fitnah [cobaan]. Karena itu, janganlah engkau kafir’.” (QS. Al Baqarah: 102)

Kedelapan, membela dan menolong orang-orang musyrik dalam memerangi kaum muslimin. Dalilnya adalah firman Allah ta’ala,

وَمَن يَتَوَلَّهُم مِّنكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللّهَ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

“Siapa saja di antara kalian yang menjadikan mereka sebagai pemimpin, maka sesungguhnya ia termasuk golongan mereka. Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (QS. Al Ma-idah: 51)

Kesembilan, siapa saja yang meyakini bahwa sebagian orang dibolehkan tidak terikat dengan syariat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam seperti Nabi Khadir ‘alaihis salam yang tidak terikat dengan syariat Nabi Musa ‘alaihis salam, maka ia adalah kafir.

Kesepuluh, berpaling dari agama Allah ta’ala—tidak mempelajarinya dan tidak beramal dengannya. Dalilnya adalah firman Allah ta’ala,

وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّن ذُكِّرَ بِآيَاتِ رَبِّهِ ثُمَّ أَعْرَضَ عَنْهَا إِنَّا مِنَ الْمُجْرِمِينَ مُنتَقِمُونَ

“Dan siapakah yang lebih zalim dari seseorang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Rabbnya, lalu ia berpaling darinya? Sungguh, Kami akan membalas orang-orang yang berdosa.” (QS. As Sajdah: 22)

Terkait pembatal-pembatal keislaman tersebut, tidak ada beda antara [melakukannya dengan] bercanda, bersungguh-sungguh atau [karena] takut. Kecuali, [karena] dipaksa. Masing-masing pembatal tersebut adalah yang paling besar bahayanya dan paling banyak terjadi.

Karena itu, sudah seharusnya bagi seorang muslim untuk berhati-hati dan takut terjadi pada dirinya. Kita berlindung kepada Allah dari apa-apa yang membuatNya murka dan azabNya yang sangat pedih.

و صلّى اللهُ على خير خلقه محمد و آله وصحبه وسلّم .

Sumber: Ra-id bin Shabri bin Abi ‘Ulfah. Majmu’ Mu-allifat Asy Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab rahimahullah (1115 – 1206 H): Juz I. Ttp: Tpn. Tth, halaman 148.

Source : dakwahislam.net

Peradaban Islam di Malta

Negara Malta disebut sebagai negara keenam terkecil di dunia, Malta atau resminya Republik Malta adalah sebuah negara kepulauan  di Eropa Selatan. Malta terdiri dari lima pulau, tiga diantaranya berpenghuni. Malta terletak 80 km (50 mil) di selatan Italia, 284 km (176 mil) timur dari Tunisia, dan 333 km (207 mil) utara dari Libya. Luasnya sekitar lebih dari 316 km (122 sq mi).

Peradaban Islam di Malta


Penduduk Malta mayoritas memeluk Katolik, yakni 98 persen. Sisanya, merupakan pemeluk Islam atau 6.000 jiwa.  Meskipun dinegara ini islam adalah minoritas tapi pada abad ke 9 Islam pernah berjaya dinegara ini saat Malta jatuh ketangan pasukan Arab.

Malta menjadi tempat penting yang strategis, yaitu sebagai pangkalan laut dan mensukseskan kekuasaan bangsa Romawi, Moor, Normandia, Sisilia, Spanyol, Knights of St John, Perancis dan Inggris. Malta memiliki dua bahasa resmi:. Maltese (dialeg bahasa arab) dan Inggris.

Pada abad 5-8 Masehi, Malta di bawah pemerintahan Bizantium. Seabad kemudian, pasukan Muslim utusan Bani Aghlabiyah yang berkuasa di Afrika Utara, bagian dari kekhalifahan Abbasiyah, merebut Malta. Bani Aghlabiyah dan pasukannya juga berhasil menguasai Sisilia. Oleh Baghdad, wilayah Sisilia dan Malta dijadikan wilayah emir terpisah.

Di masa pemerintahan Islam, bahasa Arab menjadi bahasa resmi. Saat itu, penduduk Malta mayoritas beragama Islam. Meski begitu, toleransi beragama ditegakkan. Warga non-Muslim dipersilahkan melaksanakan ibadah sesuai keyakinannya.

Di Malta, sentuhan pembaruan peradaban Islam meliputi banyak hal. Mulai dari pengenalan teknik terbaru irigrasi. Juga system perlindungan tanah dari erosi. Pengaruh lain, jelas dari bahasa. Banyak dari kata-kata bahasa Malta dipengaruhi bahasa Arab.

Source : republika.co.id

11/22/2016

Mempertahankan Identitas Muslim Yang Mulai Terkikis di Tengah Derasnya Fitnah

Bagi orang yang berakal, hidup di dunia ini tak bisa semaunya. Segala sesuatu ada aturan dan rambu-rambunya termasuk dalam ranah kehidupan beragama. Seseorang tak bisa memilih sembarang agama. 

Mempertahankan Identitas Muslim Yang Mulai Terkikis di Tengah Derasnya Fitnah


Hanyalah Islam satu-satunya agama yang sempurna dan diridhai oleh Allah Subhanahu wata’ala, Rabb alam semesta. Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

إِنَّ الدِّينَ عِندَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ ۗ

“Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam.” (Ali Imran: 19)

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا ۚ

“Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kalian agama kalian, telah Kucukupkan kepada kalian nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu sebagai agama bagi kalian.” (al-Maidah: 3)

Manakala seseorang mencari agama selain Islam, maka tidak diterima amalannya di sisi Allah Subhanahu wata’ala, dan di akhirat kelak, termasuk orang-orang yang merugi. Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) darinya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang merugi.” (Ali Imran: 85)

Bisa jadi, ada orang non muslim ada yang mendebat hal ini, adakah monopoli dalam kehidupan beragama?! Jawabannya adalah firman Allah Subhanahu wata’ala,

فَإِنْ حَاجُّوكَ فَقُلْ أَسْلَمْتُ وَجْهِيَ لِلَّهِ وَمَنِ اتَّبَعَنِ ۗ وَقُل لِّلَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ وَالْأُمِّيِّينَ أَأَسْلَمْتُمْ ۚ فَإِنْ أَسْلَمُوا فَقَدِ اهْتَدَوا ۖ وَّإِن تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا عَلَيْكَ الْبَلَاغُ ۗ وَاللَّهُ بَصِيرٌ بِالْعِبَادِ

“Kemudian jika mereka mendebat kamu (tentang kebenaran Islam), maka katakanlah, ‘Aku menyerahkan diriku kepada Allah dan (demikian pula) orangorang yang mengikutiku’. Dan katakanlah kepada orang-orang yang telah diberi al-Kitab (Yahudi dan Nasrani) dan kepada orang-orang yang ummi (orang musyrik Arab yang tidak tahu tulis baca), ‘Apakah kamu (mau) masuk Islam?’ Jika mereka masuk Islam, sesungguhnya mereka telah mendapat petunjuk, dan jika mereka berpaling maka kewajiban kamu hanyalah menyampaikan (ayat-ayat Allah). Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya.” (Ali Imran: 20)

Tak mengherankan apabila Allah Subhanahu wata’ala berwasiat kepada para hamba-Nya agar istiqamah di atas agama Islam sampai titik darah penghabisan. 

Hal ini sebagaimana dalam firman-Nya,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa dan janganlah sekali-kali meninggal dunia kecuali dalam keadaan memeluk agama Islam.” (Ali Imran: 102)

Mahasuci Allah yang telah memilihkan agama Islam sebagai agama yang terbaik bagi para hamba-Nya. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَرَبُّكَ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَيَخْتَارُ ۗ مَا كَانَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ ۚ

“Dan Rabb-mu menciptakan segala apa yang Dia kehendaki dan memilihnya. Sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka.” (al-Qashash: 68)

Dengan demikian, identitas muslim adalah sebuah kehormatan. Sungguh bahagia orang yang mendapatkan hidayah Islam dalam hidupnya. Kenikmatan sepanjang masa yang tidak dapat dirasakan oleh semua orang. Sungguh berbeda kondisi orang yang mendapatkan hidayah Islam dengan yang tidak mendapatkannya. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

أَفَمَن شَرَحَ اللَّهُ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ فَهُوَ عَلَىٰ نُورٍ مِّن رَّبِّهِ ۚ فَوَيْلٌ لِّلْقَاسِيَةِ قُلُوبُهُم مِّن ذِكْرِ اللَّهِ ۚ أُولَٰئِكَ فِي ضَلَالٍ مُّبِينٍ

“Apakah orang-orang yang Allah lapangkan dadanya untuk (menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Rabbnya (sama dengan orang yang membatu hatinya)? Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya untuk mengingat Allah, mereka itu dalam kesesatan yang nyata.” (az-Zumar: 22).

Wallahu a'lam bishawab

Abu Miqdam
Komunitas Akhlaq Mulia

Sumber : suara-islam.com