11/28/2016

128 Perilaku Orang-Orang Jahiliyyah Menurut Terjemahan Kitab Masailul Jahiliyyah Karya Syaikh Muhammad Bin Abdil Wahhab

Terkait perilaku-perilaku jahiliyyah yang diingkari oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab rahimahullahu ta’ala mengatakan,

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

Berikut ini adalah beberapa perkara yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyelisihi orang-orang jahiliyyah dari kalangan dua ahlul kitab dan [orang-orang jahiliyyah] dari kalangan ummi [yang tidak memiliki kitab suci di antaranya orang-orang musyrik Quraisy]—yang tidak boleh seorang muslim pun tidak mengetahuinya.

فَالضِّدُّ يُظْهِرُ حُسْنَهُ الضِّدُّ وَبِضِدِّهَا تَتَبَيَّنُ الأَشْيَاءُ

Maka, kebaikan itu akan lebih tampak dengan lawannya

128 Perilaku Orang-Orang Jahiliyyah Menurut Terjemahan Kitab Masailul Jahiliyyah Karya Syaikh Muhammad Bin Abdil Wahhab

Dan dengan lawan sesuatu akan lebih jelas sesuatu itu

Maka, perkara yang paling pentingnya dan yang paling bahayanya [dari perkara-perkara jahiliyyah itu] adalah tidak adanya iman di dalam hati terhadap apa-apa yang datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jika muncul anggapan baik terhadap apa yang dilakukan oleh orang-orang jahiliyyah tersebut, sempurnalah kerugiannya, sebagaimana Allah ta’ala firmankan,

وَالَّذِينَ آمَنُوا بِالْبَاطِلِ وَكَفَرُوا بِاللَّهِ أُوْلَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ

“Dan orang-orang yang beriman kepada kebatilan dan kufur terhadap Allah mereka itulah orang-orang yang merugi.” (QS. Al ‘Ankabut: 52)

Perkara pertama, orang-orang jahiliyyah beribadah dengan menjadikan orang-orang shalih sebagai sekutu dalam doa dan ibadah-ibadah kepada Allah. Mereka menginginkan syafaat orang-orang shalih itu di sisi Allah, karena persangkaan bahwa Allah dan orang-orang shalih tersebut mencintai perbuatan itu, sebagaimana Allah ta’ala berfirman,

وَيَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللّهِ مَا لاَ يَضُرُّهُمْ وَلاَ يَنفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَـؤُلاء شُفَعَاؤُنَا عِندَ اللّهِ

“Dan mereka menyembah selain Allah apa yang tidak dapat mendatangkan mudharat dan tidak pula [mendatangkan] manfaat kepada mereka. Mereka berkata, ‘Sembahan-sembahan itu adalah pemberi syafaat kami di sisi Allah’.” (QS. Yunus: 18)

Dan Allah ta’ala juga berfirman,

وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِن دُونِهِ أَوْلِيَاء مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى

“Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah mengatakan, ‘Kami tidak menyembah mereka, kecuali agar mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya’.” (QS. Az Zumar: 3)

Inilah perkara paling besar yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selisihi pada orang-orang jahiliyyah. Karena itu, beliau datang dengan tauhid dan mengabarkan bahwa tauhidlah agama Allah yang dengannya Allah utus seluruh rasul. Tidaklah diterima amalan apapun kecuali amalan yang bersih [dari kesyirikan]. Dan beliau juga mengabarkan bahwa siapa saja yang mengerjakan apa yang dipandang baik oleh orang-orang jahiliyyah berarti betul-betul telah Allah haramkan untuknya Surga dan tempat kembalinya nanti adalah Neraka.

Inilah [pula] perkara yang karenanya terpecah manusia antara mukmin dan kafir. Dari perkara inilah muncul permusuhan dan karenanya pula disyariatkan jihad [fi sabilillah]. Allah ta’ala berfirman,

وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى لاَ تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ كُلُّهُ لِلّه

“Dan perangilah oleh kalian orang-orang musyrik itu hingga tidak ada lagi kesyirikan dan agama semuanya hanya untuk Allah.” (QS. Al Anfal: 39)

Perkara kedua, orang-orang jahiliyyah berpecah-belah dalam agama mereka, sebagaimana Allah ta’ala berfirman,

كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ

“Tiap-tiap kelompok merasa bangga dengan apa yang ada pada kelompok mereka.” (QS. Ar Rum: 32)

Demikian pula di dalam urusan dunia mereka. Mereka memandang bahwa hal ini adalah sesuatu yang benar.

Karena itu, datanglah Rasulullah dengan [mengajak] bersatu di atas Islam melalui firman Allah ta’ala,

شَرَعَ لَكُم مِّنَ الدِّينِ مَا وَصَّى بِهِ نُوحاً وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى وَعِيسَى أَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ وَلَا تَتَفَرَّقُوا فِيهِ

“Allah telah menetapkan untuk kalian dari agamaNya apa yang telah diwasiatkan kepada Nuh, apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa. Yaitu, ‘Tegakkanlah agama dan janganlah kalian berpecah-belah di dalamnya’.” (QS. Asy Syura: 13)

Dan Allah ta’ala juga berfirman,

إِنَّ الَّذِينَ فَرَّقُواْ دِينَهُمْ وَكَانُواْ شِيَعاً لَّسْتَ مِنْهُمْ فِي شَيْءٍ

“Sesungguhnya, orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka itu berkubu-kubu, tidak ada sedikit pun tanggung-jawabmu atas mereka.” (QS. Al An’am: 159)

Allah ta’ala melarang kita menyerupai mereka melalui firmanNya,

وَلاَ تَكُونُواْ كَالَّذِينَ تَفَرَّقُواْ وَاخْتَلَفُواْ مِن بَعْدِ مَا جَاءهُمُ الْبَيِّنَاتُ

“Dan janganlah kalian menyerupai orang-orang yang berpecah-belah dan berselisih setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang jelas.” (QS. Ali Imran: 105)

Dan Allah juga melarang kita dari berpecah-belah dalam urusan dunia melalui firmanNya,

وَاعْتَصِمُواْ بِحَبْلِ اللّهِ جَمِيعاً وَلاَ تَفَرَّقُواْ

“Dan berpeganglah kalian semua dengan tali Allah serta jangan berpecah-belah.” (QS. Ali Imran: 103)

Perkara ketiga, menyelisihi pemimpin kaum muslimin dan meniadakan ketundukan kepadanya mengandung keutamaan [bagi orang-orang jahiliyyah]. Sementara mendengar dan menaati pemimpin kaum muslimin mengandung kerendahan dan kehinaan. Karena itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyelisihi orang-orang jahiliyyah dan memerintahkan agar mendengar dan menaati pemimpin kaum muslimin serta menasehatinya. Beliau sangat menekankan itu. Beliau perlihatkan itu dan terus mengulanginya.

Tiga perkara tersebut adalah perkara-perkara yang terkumpul pada apa yang shahih datangnya dalam Ash Shahih [Shahih Muslim hadits nomor 1715, dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu] bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللهَ يَرْضَى لَكُمْ ثَلَاثًا : أَنْ تَعْبُدَوْهُ وَلاَ تُشْرِكُواْ بِهِ شَيْئًا ، وَأَنْ تَعْتَصِمُواْ بِحَبْلِ اللهِ جَمِيْعًا وَلاَ تَتَفَرَّقُواْ ، وَأَنْ تَنَاصَحُواْ مَنْ وَلاَّهُ اللهُ أَمَرَكُمْ

“Sesungguhnya, Allah ridho untuk kalian tiga perkara. Kalian sembah Allah dan tidak menyekutukanNya dengan apapun, kalian semua berpegang dengan tali Allah dan tidak berpecah-belah, dan kalian saling menyampaikan nasehat kepada siapa saja yang Allah jadikan sebagai pemimpin kalian.”

Tidaklah terjadi kerusakan dalam agama dan dunia seseorang, kecuali karena sebab tidak adanya ketiga perkara itu atau sebagiannya.

Perkara keempat, agama orang-orang jahiliyyah dibangun di atas sejumlah dasar. Yang paling utamanya adalah sikap taklid. Dan itu sebuah kaedah yang paling besar bagi seluruh orang-orang kafir dari pertama sampai terakhir mereka, sebagaimana Allah ta’ala berfirman,

وَكَذَلِكَ مَا أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ فِي قَرْيَةٍ مِّن نَّذِيرٍ إِلَّا قَالَ مُتْرَفُوهَا إِنَّا وَجَدْنَا آبَاءنَا عَلَى أُمَّةٍ وَإِنَّا عَلَى آثَارِهِم مُّقْتَدُونَ

“Dan demikianlah. Kami tidak mengutus sebelummu seorang pemberi peringatan pun di satu negeri kecuali orang-orang yang hidup mewah di situ akan mengatakan, ‘Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut satu agama dan sesungguhnya kami adalah pengikut jejak-jejak mereka’.” (QS. Az Zuhruf: 23)

Dan Allah ta’ala juga berfirman,

وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنزَلَ اللَّهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا وَجَدْنَا عَلَيْهِ آبَاءنَا أَوَلَوْ كَانَ الشَّيْطَانُ يَدْعُوهُمْ إِلَى عَذَابِ السَّعِيرِ

“Dan jika dikatakan kepada mereka, ‘Ikutlah apa-apa yang diturunkan oleh Allah’, mereka menjawab: “[Tidak], tetapi kami [hanya] mengikuti apa-apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya’. Dan apakah mereka [tetap akan mengikuti bapak-bapak mereka], meskipun setan mengajak mereka ke dalam siksa Neraka?” (QS. Luqman: 21)

Karena itu, Rasulullah mendatangi mereka dengan firman Allah,

قُلْ إِنَّمَا أَعِظُكُم بِوَاحِدَةٍ أَن تَقُومُوا لِلَّهِ مَثْنَى وَفُرَادَى ثُمَّ تَتَفَكَّرُوا مَا بِصَاحِبِكُم مِّن جِنَّةٍ

“Katakan, ‘Sesungguhnya, aku hendak memperingatkan kalian satu hal saja: hendaklah kalian menghadap hanya kepada Allah berdua atau sendiri-sendiri. Lalu, kalian renungkan bahwa tidak ada penyakit gila sedikit pun pada teman kalian [Muhammad] itu’.” (QS. Saba’: 46)

Dan firman Allah ta’ala,

اتَّبِعُواْ مَا أُنزِلَ إِلَيْكُم مِّن رَّبِّكُمْ وَلاَ تَتَّبِعُواْ مِن دُونِهِ أَوْلِيَاء قَلِيلاً مَّا تَذَكَّرُونَ

“Ikutilah apa yang diturunkan kepada kalian dari Rabb kalian dan janganlah kalian mengikuti para pelindung selain Allah. [Sungguh] sangat sedikitlah kalian mengambil pelajaran [darinya].” (QS. Al A’raf: 3)

Perkara kelima, sesungguhnya, termasuk dari kaedah-kaedah terbesar mereka adalah terpukau dengan jumlah yang banyak. Dengan jumlah yang banyak itu mereka ber-hujjah akan benarnya sesuatu. Dan menjadikannya sandaran sesuatu yang batil dengan asingnya sesuatu itu dan sedikit pengikutnya. Maka, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam datang kepada mereka dengan kebalikan hal tersebut dan menjelaskannya lebih dari satu tempat di dalam Al Qur-an.

Perkara keenam, ber-hujjah dengan orang-orang terdahulu seperti firman Allah ta’ala,

قَالَ فَمَا بَالُ الْقُرُونِ الْأُولَى

“Berkata [Fir’aun], ‘Maka, bagaimanakah keadaan umat-umat yang dahulu?’.” (QS. Thaha: 51)

مَّا سَمِعْنَا بِهَذَا فِي آبَائِنَا الْأَوَّلِينَ

“…’belum pernah kami mendengar yang seperti ini di nenek-nenek moyang kami dulu’.” (QS. Al Mu’minun: 24)

Perkara ketujuh, berdalil dengan satu kaum yang diberi kekuatan di dalam pemahaman, pekerjaan, kekuasaan, harta-benda, dan kedudukan. Karena itu, Allah membantah hal tersebut melalui firmanNya,

وَلَقَدْ مَكَّنَّاهُمْ فِيمَا إِن مَّكَّنَّاكُمْ فِيهِ

“Dan sungguh betul-betul telah Kami teguhkan kedudukan mereka dalam hal-hal yang Kami belum pernah teguhkan kedudukan kalian di dalamnya.” (QS. Al Ahqaf: 26)

Dan firmanNya,

وَلَمَّا جَاءهُمْ كِتَابٌ مِّنْ عِندِ اللّهِ مُصَدِّقٌ لِّمَا مَعَهُمْ وَكَانُواْ مِن قَبْلُ يَسْتَفْتِحُونَ عَلَى الَّذِينَ كَفَرُواْ فَلَمَّا جَاءهُم مَّا عَرَفُواْ كَفَرُواْ بِهِ

“Dan ketika datang kepada mereka Al Qur-an dari Allah yang membenarkan apa yang ada pada mereka—sedangkan mereka sebelumnya mereka biasa mengharapkan [kedatangan nabi terakhir] agar menang atas orang-orang kafir—lalu ketika datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui itu, mereka ingkar kepadanya.” (QS. Al Baqarah: 89)

Juga firmanNya,

يَعْرِفُونَهُ كَمَا يَعْرِفُونَ أَبْنَاءهُمْ

“Mereka mengenalnya [yaitu, Rasulullah], sebagaimana mereka mengenal anak-anak mereka.” (QS. Al Baqarah: 146)

Perkara kedelapan, berdalil tentang batilnya sesuatu dengan tidak diikutinya sesuatu itu kecuali oleh orang-orang lemah. Seperti firman Allah ta’ala,

أَنُؤْمِنُ لَكَ وَاتَّبَعَكَ الْأَرْذَلُونَ

“…’Apakah kami beriman kepadamu, sedangkan yang mengikutimu adalah orang-orang yang hina?’.” (QS. Asy Syu’ara’: 111)

Dan firmanNya,

أَهَـؤُلاء مَنَّ اللّهُ عَلَيْهِم مِّن بَيْنِنَا

“…’Orang-orang semacam inikah yang telah Allah beri anugrah di antara kita?’.” (QS. Al An’am: 53)

Maka, Allah bantah hal itu melalui firmanNya,

أَلَيْسَ اللّهُ بِأَعْلَمَ بِالشَّاكِرِينَ

“Bukankah Allah yang lebih mengetahui orang-orang yang bersyukur?”. (QS. Al An’am: 53)

Perkara kesembilan, mencontoh ulama-ulama yang fasik dan ahli-ahli ibadah yang bodoh. Maka, Allah datang dengan firmanNya,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ إِنَّ كَثِيراً مِّنَ الأَحْبَارِ وَالرُّهْبَانِ لَيَأْكُلُونَ أَمْوَالَ النَّاسِ بِالْبَاطِلِ وَيَصُدُّونَ عَن سَبِيلِ اللّهِ

“Wahai, orang-orang beriman, sesungguhnya, kebanyakan ulama-ulama Yahudi dan rahib-rahib Nasrani benar-benar makan harta orang dengan jalan batil dan mereka menghalang-halangi [manusia] dari jalan Allah.” (QS. At Taubah: 34)

Juga dengan firmanNya,

لاَ تَغْلُواْ فِي دِينِكُمْ غَيْرَ الْحَقِّ وَلاَ تَتَّبِعُواْ أَهْوَاء قَوْمٍ قَدْ ضَلُّواْ مِن قَبْلُ وَأَضَلُّواْ كَثِيراً وَضَلُّواْ عَن سَوَاء السَّبِيلِ

“…’janganlah kalian melampaui batas dalam agama kalian dengan cara yang tidak benar. Dan janganlah kalian mengikuti hawa nafsu orang-orang dahulu yang telah sesat [yakni, sebelum kedatangan Muhammad] dan yang  telah menyesatkan kebanyakan orang. Mereka tersesat dari jalan yang lurus’.” (QS. Al Ma-idah: 77)

Perkara kesepuluh, berdalil akan batilnya satu agama dengan lemahnya pemahaman para pemeluknya dan tiadanya hafalan mereka, seperti ucapan mereka,

بَادِيَ الرَّأْيِ

“…yang mudah percaya saja…” (QS. Hud: 27)

Perkara kesebelas, berdalil dengan kias yang rusak, seperti ucapan mereka,

إِنْ أَنتُمْ إِلاَّ بَشَرٌ مِّثْلُنَا

“…’Engkau tidak lain kecuali manusia seperti kami [juga]’…”. (QS. Ibrahim: 10)

Perkara kedua belas, mengingkari kias yang benar. Dan yang menggabungkan hal ini dan yang sebelum ini adalah tiadanya pemahaman tentang kaedah “sesuatu yang mengumpulkan” dan “sesuatu yang membedakan.”

Perkara ketiga belas, bersikap fanatik kepada para ulama dan orang-orang shalih, seperti firman Allah,

يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لاَ تَغْلُواْ فِي دِينِكُمْ وَلاَ تَقُولُواْ عَلَى اللّهِ إِلاَّ الْحَقِّ

“Wahai ahlul kitab, janganlah kalian melampaui batas dalam agama kalian. Dan janganlah kalian berkata tentang Allah, kecuali perkataan yang haq.” (QS. An Nisa’: 171)

Perkara keempat belas, semua yang telah disebutkan ini dibangun di atas satu kaedah, yaitu penafian dan penetapan. Maka, mereka mengikuti hawa nafsu dan persangkaan belaka dan menolak apa yang dibawa para rasul.

Perkara kelima belas, mereka beralasan tidak mau mengikuti apa yang datang dari Allah karena tidak memahami, seperti ucapan,

قُلُوبُنَا غُلْفٌ

“…’Hati-hati kami terkunci’.” (QS. Al Baqarah: 88)

يَا شُعَيْبُ مَا نَفْقَهُ كَثِيراً مِّمَّا تَقُولُ

“…’Wahai Syu’aib, kami tidak banyak mengerti apa yang engkau katakan itu…’.” (QS. Hud: 91)

Maka, Allah dustakan mereka. Dan Allah menjelaskan bahwa itu semua karena tertutupnya hati-hati mereka dan tertutupnya hati mereka karena sebab kekafiran mereka.

Perkara keenam belas, mereka mengganti apa-apa yang datang dari Allah kepada mereka dengan buku-buku sihir, sebagaimana yang Allah sebutkan dalam firmanNya,

نَبَذَ فَرِيقٌ مِّنَ الَّذِينَ أُوتُواْ الْكِتَابَ كِتَابَ اللّهِ وَرَاء ظُهُورِهِمْ كَأَنَّهُمْ لاَ يَعْلَمُونَ . وَاتَّبَعُواْ مَا تَتْلُواْ الشَّيَاطِينُ عَلَى مُلْكِ سُلَيْمَانَ .

“…sebagian orang yang diberi kitab [Taurat] melemparkan kitab Allah itu ke belakang punggung-punggung mereka, seolah-olah mereka tidak mengetahui [bahwa itu kitab Allah], dan mengikuti apa yang dibaca oleh setan-setan pada masa kerajaan Sulaiman.” (QS. Al Baqarah: 101-102)

Perkara ketujuh belas, menyandarkan kebatilan mereka kepada para nabi, seperti firman Allah,

وَمَا كَفَرَ سُلَيْمَانُ

“…dan Nabi Sulaiman tidak kafir.” (QS. Al Baqarah: 102)

Dan firmanNya,

مَا كَانَ إِبْرَاهِيمُ يَهُودِيّاً وَلاَ نَصْرَانِيّاً

“Ibrahim bukanlah seorang Yahudi. Bukan pula seorang Nasrani.” (QS. Ali Imran: 67)

Perkara kedelapan belas, bertolak-belakangnya mereka dalam menisbatkan diri. Mereka menisbatkan kepada Nabi Ibrahim ‘alaihis salam seraya menampakkan penolakan mereka untuk mengikuti beliau.

Perkara kesembilan belas, mereka mencela sebagian orang shalih dengan perbuatan sebagian orang yang menisbatkan diri kepada orang-orang shalih itu seperti celaan orang-orang Yahudi kepada Nabi Isa ‘alaihis salam dan celaan orang-orang Yahudi dan Nasrani kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Perkara kedua puluh, mereka meyakini bahwa hal-hal di luar kebiasaan yang ada pada para penyihir dan yang semisalnya termasuk dari karamah orang-orang shalih dan menyandarkan hal itu kepada para nabi, sebagaimana mereka menyandarkannya kepada Nabi Sulaiman ‘alaihis salam.

Perkara kedua puluh satu, mereka beribadah dengan bersiul dan bertepuk-tangan.

Perkara kedua puluh dua, mereka menjadikan agama mereka senda-gurau dan permainan.

Perkara kedua puluh tiga, kehidupan dunia menipu mereka. Mereka mengira bahwa pemberian Allah [kepada mereka] menunjukkan akan ridho Allah, sebagaimana ucapan mereka,

نَحْنُ أَكْثَرُ أَمْوَالاً وَأَوْلَاداً وَمَا نَحْنُ بِمُعَذَّبِينَ

“…’Kami lebih banyak harta dan anak-anak. Dan kami sekali-kali tidak akan diazab’.” (QS. Saba’: 35)

Perkara kedua puluh empat, tidak mau masuk ke dalam al haq, jika telah didahului oleh orang-orang lemah, karena sombong dan keras kepala. Maka, Allah ta’ala turunkan,

وَلاَ تَطْرُدِ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُم

“Dan janganlah engkau mengusir orang-orang yang menyeru Rabb mereka.” (QS. Al An’am: 52)

Perkara kedua puluh lima, berdalil tentang kebatilan sesuatu dengan didahuluinya hal tersebut orang-orang lemah, seperti firman Allah,

لَوْ كَانَ خَيْراً مَّا سَبَقُونَا إِلَيْهِ

“…’Kalau sekiranya [dalam Al Qur’an] ada sesuatu yang baik, tentulah mereka tiada mendahului kami [dalam beriman] kepadanya’.” (QS. Al Ahqaf: 11)

Perkara kedua puluh enam, mengubah kitab Allah dengan apa-apa yang mereka pikirkan, sedangkan mereka menyadari hal itu.

Perkara kedua puluh tujuh, menyusun kitab-kitab batil dan menyandarkannya kepada Allah, seperti firman Allah,

فَوَيْلٌ لِّلَّذِينَ يَكْتُبُونَ الْكِتَابَ بِأَيْدِيهِمْ ثُمَّ يَقُولُونَ هَـذَا مِنْ عِندِ اللّهِ

“Maka, kecelakaanlah bagi orang-orang yang menulis kitab dengan tangan mereka, lalu berkata, ‘Ini dari Allah’.” (QS. Al Baqarah: 79)

Perkara kedua puluh delapan, bahwasanya mereka tidak menerima al haq, kecuali yang menguntungkan kelompok mereka, seperti firman Allah,

قَالُواْ نُؤْمِنُ بِمَا أُنزِلَ عَلَيْنَا

“Mereka mengatakan, ‘Kami beriman kepada apa yang diturunkan kepada kami’.” (QS. Al Baqarah: 91)

Perkara kedua puluh sembilan, bersamaan dengan itu, mereka tidak mengerti apa yang dikatakan kelompok mereka itu, sebagaimana ditekankan oleh Allah ta’ala tentangnya melalui firmanNya,

قُلْ فَلِمَ تَقْتُلُونَ أَنبِيَاءَ اللّهِ مِن قَبْلُ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ

“Katakan, ‘Kalau demikian, mengapa kalian dulu membunuh nabi-nabi Allah, jika benar kalian orang-orang yang beriman?’.” (QS. Al Baqarah: 91)

Perkara ketiga puluh, termasuk tanda-tanda Allah yang mengherankan adalah bahwa mereka betul-betul meninggalkan wasiat Allah untuk bersatu dan melakukan apa yang Allah larang berupa berpecah-belah. Jadilah mereka senang dengan apa yang ada pada setiap kelompok mereka.

Perkara ketiga puluh satu, termasuk tanda-tanda [Allah] yang mengherankan juga adalah mereka memusuhi agama yang mereka menyandarkan diri kepadanya dengan sebetul-betulnya permusuhan dan mereka mencintai agama orang-orang kafir yang memusuhi mereka dan nabi mereka serta kelompok mereka dengan sebetul-betulnya kecintaan. Seperti yang mereka lakukan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ketika beliau mendatangi mereka dengan agama Nabi Musa ‘alaihis salam. Mereka pun [memilih] mengikuti kitab-kitab sihir yang itu adalah agama pengikut-pengikut Fir’aun.

Perkara ketiga puluh dua, mereka mengingkari al haq jika dibawa oleh orang yang mereka hinakan, sebagaimana yang Allah ta’ala firmankan,

وَقَالَتِ الْيَهُودُ لَيْسَتِ النَّصَارَى عَلَىَ شَيْءٍ وَقَالَتِ النَّصَارَى لَيْسَتِ الْيَهُودُ عَلَى شَيْءٍ

“Orang-orang Yahudi berkata, ‘Orang-orang Nasrani itu tidak memiliki satu rujukan’. Orang-orang Nasrani berkata, ‘Orang-orang Yahudi tidak memiliki satu rujukan’.” (QS. Al Baqarah: 113)

Perkara ketiga puluh tiga, mereka mengingkari apa yang telah mereka tetapkan bahwa itu termasuk dari agama mereka, sebagaimana yang mereka lakukan pada haji di Ka’bah. Maka, Allah ta’ala berfirman,

وَمَن يَرْغَبُ عَن مِّلَّةِ إِبْرَاهِيمَ إِلاَّ مَن سَفِهَ نَفْسَهُ

“Dan tidak ada yang membenci agama Ibrahim, kecuali orang yang memperbodoh dirinya sendiri…” dan seterusnya. (QS. Al Baqarah: 130)

Perkara ketiga puluh empat, setiap kelompok mengaku-ngaku sebagai kelompok yang selamat. Maka, Allah dustakan mereka melalui firmanNya,

هَاتُواْ بُرْهَانَكُمْ إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ

“…’Tunjukkan bukti kebenaran kalian, jika betul kalian orang-orang yang benar’.” (QS. Al Baqarah: 111)

Kemudian, Allah terangkan kebenarannya melalui firmanNya,

بَلَى مَنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ

“Tidak seperti itu. Bahkan, siapa saja yang menyerahkan diri kepada Allah, sedangkan ia berbuat kebaikan…” dan seterusnya. (QS. Al Baqarah: 112)

Perkara ketiga puluh lima, beribadah dengan membuka aurat-aurat [mereka]. Seperti firmanNya,

وَإِذَا فَعَلُواْ فَاحِشَةً قَالُواْ وَجَدْنَا عَلَيْهَا آبَاءنَا وَاللّهُ أَمَرَنَا بِهَا

“Jika mereka melakukan perbuatan keji, mereka mengatakan, ‘Kami dapati nenek-moyang kami mengerjakan seperti ini dan Allah menyuruh kami mengerjakan ini’.” (QS. Al A’raf: 28)

Perkara ketiga puluh enam, beribadah dengan mengharamkan yang halal, sebagaimana mereka beribadah dengan kesyirikan.

Perkara ketiga puluh tujuh, beribadah dengan menjadikan ulama-ulama dan rahib-rahib mereka sebagai sesembahan selain Allah.

Perkara ketiga puluh delapan, melakukan penyimpangan dalam sifat-sifat Allah. Seperti firman Allah ta’ala,

وَلَكِن ظَنَنتُمْ أَنَّ اللَّهَ لَا يَعْلَمُ كَثِيراً مِّمَّا تَعْمَلُونَ

“Akan tetapi, kalian mengira bahwa Allah tidak mengetahui kebanyakan apa yang kalian kerjakan.” (QS. Fushilat: 22)

Perkara ketiga puluh sembilan, melakukan penyimpangan dalam nama-nama Allah, seperti firman Allah,

وَهُمْ يَكْفُرُونَ بِالرَّحْمَـنِ

“…dan mereka mengufuri Ar Rahman.” (QS. Ar Ra’du: 30)

Perkara keempat puluh, menafikan nama-nama dan sifat-sifat Allah [baik sebagian atau keseluruhan] seperti ucapan Fir’aun.

Perkara keempat puluh satu, menisbatkan kepada Allah subhanahu wa ta’ala hal-hal yang tidak sempurna seperti “anak”, “membutuhkan”, dan “lelah”, seraya menyucikan rahib-rahib mereka dari sebagian hal-hal tersebut.

Perkara keempat puluh dua, menyekutukan Allah dalam masalah kekuasaan seperti ucapan orang-orang Majusi.

Perkara keempat puluh tiga, menentang takdir Allah.

Perkara keempat puluh empat, berdalih karena Allah [ketika melakukan kemaksiatan].

Perkara keempat puluh lima, menentang syariat Allah dengan takdirNya.

Perkara keempat puluh enam, mencela waktu, seperti ucapan mereka,

وَمَا يُهْلِكُنَا إِلَّا الدَّهْرُ

“…’dan tidak ada yang membinasakan kami, kecuali waktu’.” (QS Al Jatsiyah: 24)

Perkara keempat puluh tujuh, menyandarkan kenikmatan-kenikmatan dari Allah kepada selainNya, seperti firman Allah,

يَعْرِفُونَ نِعْمَةَ اللّهِ ثُمَّ يُنكِرُونَهَا

“Mereka mengetahui nikmat Allah, lalu mereka mengingkarinya.” (QS. An Nahl: 83)

Perkara keempat puluh delapan, kufur terhadap ayat-ayat Allah.

Perkara keempat puluh sembilan, menolak sebagian ayat-ayat Allah.

Perkara kelima puluh, firman Allah,

مَا أَنزَلَ اللّهُ عَلَى بَشَرٍ مِّن شَيْءٍ

“…[Mereka mengucapkan,] ’Allah tidak menurunkan apapun kepada manusia’.” (QS. Al An’am: 91)

Perkara kelima puluh satu, ucapan mereka di dalam Al Qur-an,

إِنْ هَذَا إِلَّا قَوْلُ الْبَشَرِ

“Ini tidak lain hanyalah perkataan manusia.” (QS. Al Muddatstsir: 25)

Perkara kelima puluh dua, mempertanyakan hikmah dari Allah ta’ala.

Perkara kelima puluh tiga, memkilah dengan sesuatu yang jelas ataupun yang samar untuk menolak apa-apa yang datang dari para rasul, seperti firman Allah ta’ala,

وَمَكَرُواْ وَمَكَرَ اللّهُ

“Mereka membuat makar dan Allah membalas makar [mereka].” (QS. Ali Imran: 54)

Dan firman Allah ta’ala,

وَقَالَت طَّآئِفَةٌ مِّنْ أَهْلِ الْكِتَابِ آمِنُواْ بِالَّذِيَ أُنزِلَ عَلَى الَّذِينَ آمَنُواْ وَجْهَ النَّهَارِ وَاكْفُرُواْ آخِرَهُ

“Segolongan [lainnya] dari Ahlul Kitab mengatakan, ‘Perlihatkanlah [seolah-olah] kalian beriman kepada apa yang diturunkan kepada orang-orang beriman [sahabat-sahabat Rasulullah] pada permulaan siang dan ingkarilah pada akhir siang…”. (QS. Ali Imran: 72)

Perkara kelima puluh empat, mengakui al haq dengan maksud agar bisa menolaknya, sebagaimana disebutkan di ayat sebelum ini.

Perkara kelima puluh lima, fanatik buta terhadap satu mazhab, seperti firman Allah ta’ala tentang itu,

وَلاَ تُؤْمِنُواْ إِلاَّ لِمَن تَبِعَ دِينَكُمْ

“Dan janganlah kalian percaya, kecuali kepada siapa saja yang mengikuti agama kalian.” (QS. Ali Imran: 73)

Perkara kelima puluh enam, menyebut kaum muslimin dengan kesyirikan, sebagaimana disebutkan di dalam firman Allah,

مَا كَانَ لِبَشَرٍ أَن يُؤْتِيَهُ اللّهُ الْكِتَابَ وَالْحُكْمَ وَالنُّبُوَّةَ ثُمَّ يَقُولَ لِلنَّاسِ كُونُواْ عِبَاداً لِّي مِن دُونِ اللّهِ

“Tidak sepantasnya seseorang manusia—yang Allah berikan kepadanya kitab suci, hikmah dan kenabian kemudian—berkata kepada orang-orang, ‘Hendaklah kalian menjadi penyembah-penyembahku. Bukan penyembah Allah’.” (QS. Ali Imran: 79)

Perkara kelima puluh tujuh, mengubah ucapan-ucapan [Allah] dari makna-maknanya.

Perkara kelima puluh delapan, bersilat-lidah menggunakan ayat-ayat Allah.

Perkara kelima puluh sembilan, menjuluki orang-orang yang mendapat hidayah sebagai kaum shaba’ [orang-orang yang pindah kepercayaan] dan kaum hasyawiyah [orang-orang yang terpaku pada teks].

Perkara keenam puluh, berdusta atas nama Allah.

Perkara keenam puluh satu, mendustakan al haq.

Perkara keenam puluh dua, jika kalah dalam hujjah mereka biasa bersegera mengadu kepada penguasa, sebagaimana yang mereka katakan,

أَتَذَرُ مُوسَى وَقَوْمَهُ لِيُفْسِدُواْ فِي الأَرْضِ

“…’[Mereka berkata,] ‘Apakah engkau membiarkan Musa dan kaumnya berbuat kerusakan di negeri ini?’.” (QS. Al A’raf: 127)

Perkara keenam puluh tiga, mereka menuduh orang-orang yang mengalahkan mereka dengan hujjah itu sebagai pembuat kerusakan di muka bumi, sebagaimana disebutkan di ayat sebelum ini.

Perkara keenam puluh empat, mereka menuduh orang-orang yang mengalahkan mereka dengan hujjah itu mencela agama penguasa, sebagaimana Allah ta’ala firmankan,

وَيَذَرَكَ وَآلِهَتَكَ

“…’dan meninggalkanmu serta sembahan-sembahanmu’.” (QS. Al A’raf: 127)

Dan sebagaimana Allah ta’ala berfirman,

إِنِّي أَخَافُ أَن يُبَدِّلَ دِينَكُمْ

“…’sesungguhnya aku khawatir ia akan mengganti agama kalian’.” (QS. Ghafir: 26)

Perkara keenam puluh lima, mereka menuduh orang-orang yang mengalahkan mereka dengan hujjah itu mencela sembahan penguasa, sebagaimana di ayat yang disebutkan sebelum ini.

Perkara keenam puluh enam, mereka menuduh orang-orang yang mengalahkan mereka dengan hujjah itu mengganti agama, sebagaimana Allah ta’ala berfirman,

إِنِّي أَخَافُ أَن يُبَدِّلَ دِينَكُمْ أَوْ أَن يُظْهِرَ فِي الْأَرْضِ الْفَسَادَ

“…’sesungguhnya aku khawatir ia akan mengganti agama kalian atau membuat kerusakan di muka bumi’.” (QS. Ghafir: 26)

Perkara keenam puluh tujuh, mereka menuduh orang-orang yang mengalahkan mereka dengan hujjah itu mencela penguasa, seperti ucapan mereka,

وَيَذَرَكَ وَآلِهَتَكَ

“…’dan meninggalkanmu serta sembahan-sembahanmu’.” (QS. Al A’raf: 127)

Perkara keenam puluh delapan, mereka mengaku-ngaku beramal dengan al haq yang ada pada mereka, seperti ucapan mereka,

نُؤْمِنُ بِمَا أُنزِلَ عَلَيْنَا

“…’Kami beriman dengan apa-apa yang diturunkan kepada kami’ (QS. Al Baqarah: 91)” seraya meninggalkan apa-apa yang ada pada mereka itu.

Perkara keenam puluh sembilan, menambah-nambah dalam ibadah, seperti perbuatan mereka pada hari Asyura’.

Perkara ketujuh puluh, mengurangi-ngurangi dalam ibadah, seperti meninggalkan wukuf di Arafah.

Perkara ketujuh puluh satu, mereka meninggalkan kewajiban-kewajiban dengan alasan menjaga kehormatan diri.

Perkara ketujuh puluh dua, mereka beribadah dengan meninggalkan rejeki yang baik.

Perkara ketujuh puluh tiga, mereka beribadah dengan meninggalkan berhias kepada Allah.

Perkara ketujuh puluh empat, mengajak manusia ke dalam kesesatan atas dasar kebodohan.

Perkara ketujuh puluh lima, mengajak manusia dengan sengaja kepada kekafiran.

Pekara ketujuh puluh enam, membuat makar yang besar, seperti perbuatan kaum Nuh ‘alaihis salam.

Perkara ketujuh puluh tujuh, pemimpin-pemimpin mereka itu, jika bukan ulama-ulama yang jahat, maka ahli-ahli ibadah yang bodoh. Seperti dalam firman Allah ta’ala,

وَقَدْ كَانَ فَرِيقٌ مِّنْهُمْ يَسْمَعُونَ كَلاَمَ اللّهِ ثُمَّ يُحَرِّفُونَهُ مِن بَعْدِ مَا عَقَلُوهُ وَهُمْ يَعْلَمُونَ . وَإِذَا لَقُواْ الَّذِينَ آمَنُواْ قَالُواْ آمَنَّا وَإِذَا خَلاَ بَعْضُهُمْ إِلَىَ بَعْضٍ قَالُواْ أَتُحَدِّثُونَهُم بِمَا فَتَحَ اللّهُ عَلَيْكُمْ لِيُحَآجُّوكُم بِهِ عِندَ رَبِّكُمْ أَفَلاَ تَعْقِلُونَ . أَوَلاَ يَعْلَمُونَ أَنَّ اللّهَ يَعْلَمُ مَا يُسِرُّونَ وَمَا يُعْلِنُونَ . وَمِنْهُمْ أُمِّيُّونَ لاَ يَعْلَمُونَ الْكِتَابَ إِلاَّ أَمَانِيَّ

“…’padahal segolongan dari mereka mendengar firman Allah, lalu mereka mengubahnya setelah mereka memahaminya, sedang mereka mengetahui? Dan jika mereka bertemu dengan orang-orang beriman, mereka mengatakan, ‘Kami telah beriman’. Namun jika mereka berada sesama mereka saja, mereka mengatakan, ‘Apakah kalian menceritakan kepada mereka (orang-orang beriman) apa yang telah diterangkan Allah kepada kalian agar dapat ber-hujjah di hadapan Rabb kalian? Tidakkah kalian mengerti?’. Tidakkah mereka mengetahui bahwa Allah mengetahui segala yang mereka sembunyikan dan segala yang mereka ungkapkan? Dan di antara mereka ada yang ummi [buta huruf] yang tidak mengetahui Taurat, kecuali [sebagai] dongeng belaka…”. (QS. Al Baqarah: 75-78)

Perkara ketujuh puluh delapan, mereka mengaku merekalah wali-wali Allah yang berbeda dari manusia lainnya.

Perkara ketujuh puluh sembilan, mereka mengaku-ngaku mencintai Allah seraya meninggalkan syariatNya. Maka, Allah pun menuntut mereka melalui firmanNya,

قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

“Katakan, ‘Jika memang kalian mencintai Allah, maka ikutilah aku. Allah akan mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian’. Dan Allah-lah yang maha pengampun lagi maha penyayang.” (QS. Ali Imran: 31)

Perkara kedelapan puluh, mereka berangan-angan dengan kedustaan, seperti ucapan mereka,

لَن تَمَسَّنَا النَّارُ إِلاَّ أَيَّاماً مَّعْدُودَةً

“…’Kami tidak akan disentuh api Neraka, kecuali hanya beberapa hari saja’.” (QS. Al Baqarah: 80)

Dan ucapan mereka,

لَن يَدْخُلَ الْجَنَّةَ إِلاَّ مَن كَانَ هُوداً أَوْ نَصَارَى

“…’Tidak akan masuk ke dalam Surga, kecuali Yahudi atau Nasrani’.” (QS. Al Baqarah: 111)

Perkara kedelapan puluh satu, mereka menjadikan kuburan nabi-nabi dan orang-orang shalih mereka sebagai tempat-tempat ibadah.

Perkara kedelapan puluh dua, mereka menjadikan bekas-bekas peninggalan nabi-nabi mereka sebagai tempat-tempat ibadah, sebagaimana disebutkan oleh Umar radhiyallahu ‘anhu.

Perkara kedelapan puluh tiga, membuat lentera-lentera di kuburan.

Perkara kedelapan puluh empat, menjadikan kuburan-kuburan sebagai tempat-tempat perayaan.

Perkara kedelapan puluh lima, berkurban di kuburan-kuburan.

Perkara kedelapan puluh enam, mencari berkah dengan peninggalan tokoh-tokoh mereka, seperti Dar An Nadwah [aula tempat bermusyawarah tokoh-tokoh musyrikin Quraisy] dan berbangga-bangga dengan memiliki peninggalan itu, sebagaimana pernah dikatakan kepada Hakim bin Hizam radhiyallahu ‘anhu, “Engkau telah menjual pusaka Quraisy.” Maka, beliau radhiyallahu ‘anhu menjawab, “Pusaka-pusaka itu telah lenyap, kecuali ketakwaan.”

Perkara kedelapan puluh tujuh, berbangga-bangga dengan kedudukan.

Perkara kedelapan puluh delapan, mencela nasab.

Perkara kedelapan puluh sembilan, meminta hujan kepada bintang-bintang.

Perkara kesembilan puluh, meratapi kematian.

Perkara kesembilan puluh satu, keutamaan mereka yang paling besar adalah kezaliman. Maka, Allah singgung itu dalam apa yang telah disebutkan.

Perkara kesembilan puluh dua, keutamaan mereka yang paling besar adalah sombong, meskipun dengan al haq. Maka, Allah larang hal itu.

Perkara kesembilan puluh tiga, bagi mereka fanatik buta seseorang kepada kelompoknya di atas al haq ataupun kebatilan adalah perkara yang mesti. Maka, Allah singgung itu dalam apa yang telah disebutkan.

Perkara kesembilan puluh empat, termasuk agama orang-orang jahiliyyah adalah menimpakan perbuatan dosa seseorang kepada orang lain. Maka, Allah turunkan,

وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى

“Dan orang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain.” (QS. Fathir: 18)

Perkara kesembilan puluh lima, mencela seseorang dengan apa yang dikerjakan orang lain. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَعَيَّرْتَهُ بِأُمِّهِ ؟ إِنَّكَ امْرُؤٌ فِيْكَ جَهِلِيَّة

“Apakah engkau cela ia dengan apa yang ada pada ibunya? Sungguh, pada dirimu ada sesuatu dari perkara-perkara jahiliyyah.” [HR. Bukhari dan Muslim]

Perkara kesembilan puluh enam, berbangga-bangga karena mengurusi Ka’bah. Maka, Allah cela mereka melalui firmanNya,

مُسْتَكْبِرِينَ بِهِ سَامِراً تَهْجُرُونَ

“Dengan berbangga-bangga terhadap Al Qur-an dan mengucapkan kata-kata kotor terhadapnya di waktu kalian bercakap-cakap di malam hari.” (QS. Al Mu’minun: 67)

Perkara kesembilan puluh tujuh, berbangga-bangga sebagai keturunan para nabi. Maka, Allah datangkan firmanNya kepada mereka,

تِلْكَ أُمَّةٌ قَدْ خَلَتْ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَلَكُم مَّا كَسَبْتُمْ وَلاَ تُسْأَلُونَ عَمَّا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Itu adalah umat yang terdahulu. Bagi mereka apa yang telah diusahakan mereka dan bagi kalian apa yang sudah kalian usahakan. Dan kalian tidak akan dimintai tanggung-jawab tentang apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al Baqarah: 134)

Perkara kesembilan puluh delapan, berbangga-bangga dengan pekerjaan-pekerjaan mereka, seperti ucapan para pedagang kepada para penggarap tanah.

Perkara kesembilan puluh sembilan, menjadikan dunia agung di dalam hati-hati mereka, seperti ucapan mereka,

لَوْلَا نُزِّلَ هَذَا الْقُرْآنُ عَلَى رَجُلٍ مِّنَ الْقَرْيَتَيْنِ عَظِيمٍ

“…’Mengapa Al Qur-an tidak diturunkan kepada tokoh salah satu dari dua negeri ini [Mekkah dan Tha-if]?’.” (QS. Az Zukhruf: 31)

Perkara keseratus, menghakimi Allah sebagaimana yang ada di ayat itu [Surat Az Zukhruf ayat 31].

Perkara keseratus satu, melecehkan orang-orang fakir. Maka, Allah datangkan kepada mereka firmanNya,

وَلاَ تَطْرُدِ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُم بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ

“Dan janganlah engkau mengusir orang-orang yang menyeru Rabb mereka di waktu pagi dan petang.” (QS. Al An’am: 52)

Perkara keseratus dua, menuduh pengikut-pengikut para rasul tidak memiliki keikhlasan dan mencari dunia. Maka, Allah jawab mereka itu dengan firmanNya,

مَا عَلَيْكَ مِنْ حِسَابِهِم مِّن شَيْءٍ

“Engkau tidak memikul tanggung-jawab sedikit pun atas perbuatan mereka” (QS. Al An’am: 52) dan yang semisalnya.

Perkara keseratus tiga, kafir terhadap malaikat.

Perkara keseratus empat, kafir terhadap para rasul.

Perkara keseratus lima, kafir terhadap kitab-kitab Allah.

Perkara keseratus enam, berpaling dari apa-apa yang datang dari Allah.

Perkara keseratus tujuh, kafir terhadap hari kiamat.

Perkara keseratus delapan, mendustakan perjumpaan dengan Allah nanti.

Perkara keseratus sembilan, mendustakan sebagian yang dikabarkan para rasul tentang hari kiamat, sebagaimana dalam firmanNya,

أُولَئِكَ الَّذِينَ كَفَرُوا بِآيَاتِ رَبِّهِمْ وَلِقَائِهِ

“Mereka itu orang-orang yang telah kufur terhadap ayat-ayat Rabb mereka dan perjumpaan denganNya.” (QS. Al Kahfi: 105)

Di antaranya juga mendustakan firmanNya,

مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ

“Penguasa hari akhir.” (QS. Al Fatihah: 3)

Dan firmanNya,

يَوْمٌ لاَّ بَيْعٌ فِيهِ وَلاَ خُلَّةٌ وَلاَ شَفَاعَةٌ

“…hari yang tidak ada jual-beli, cinta-kasih, dan syafaat.” (QS. Al Baqarah: 254)

Juga,

إِلَّا مَن شَهِدَ بِالْحَقِّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ

“…kecuali orang yang mengakui al haq [tauhid] dan mereka meyakininya.” (QS. Az Zukhruf: 68)

Perkara keseratus sepuluh, membunuh orang-orang yang memerintah dengan keadilan di tengah-tengah manusia.

Perkara keseratus sebelas, beriman kepada setan-setan dan thaghut-thaghut.

Perkara keseratus dua belas, lebih mengutamakan agama orang-orang musyrik daripada agama Islam.

Perkara keseratus tiga belas, mencampur al haq dengan kebatilan.

Perkara keseratus empat belas, menyembunyikan al haq setelah mengetahuinya.

Perkara keseratus lima belas, [memegang] kaedah sesat, yaitu berkata tentang Allah tanpa ilmu.

Perkara keseratus enam belas, saling mempertentangkan perkara yang jelas ketika mereka mendustakan al haq, sebagaimana firman Allah ta’ala,

بَلْ كَذَّبُوا بِالْحَقِّ لَمَّا جَاءهُمْ فَهُمْ فِي أَمْرٍ مَّرِيجٍ

“Akan tetapi, mereka dustakan al haq ketika al haq itu datang kepada mereka. Maka, mereka pun berada dalam kekacauan.” (QS. Qaf: 5)

Perkara keseratus tujuh belas, mengimani sebagian yang diturunkan Allah tanpa sebagian yang lain.

Perkara keseratus delapan belas, membeda-bedakan para rasul.

Perkara keseratus sembilan belas, memperdebatkan apa-apa yang mereka tidak miliki ilmunya.

Perkara keseratus dua puluh, mengaku-ngaku sebagai para pengikut rasul terdahulu seraya mempertontonkan penyelisihan mereka.

Perkara keseratus dua puluh satu, menghalangi orang-orang yang beriman dari jalan Allah.

Perkara keseratus dua puluh dua, mencintai kekafiran dan orang-orang kafir.

Perkara keseratus dua puluh tiga, keseratus dua puluh empat, keseratus dua puluh lima, keseratus dua puluh enam, keseratus dua puluh tujuh, dan keseratus dua puluh delapan: al ‘iyafah [menduga-duga nasib lewat tingkah-laku burung-burung tertentu], ath tharq [meramal nasib lewat garis-garis yang dibuat di tanah oleh dukun atau tukang sihir], thiyarah [persangkaan sial], kahanah [perdukunan], berhukum kepada thaghut, dan tidak mau menikahkan dua orang budak.

Wallahu a’lam.

و صلّى اللهُ على محمد وعلى آله وصحبه وسل

Source :

  • dakwahislam.net
  • Ra-id bin Shabri bin Abi ‘Ulfah. Majmu’ Mu-allifat Asy Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab rahimahullah (1115 – 1206 H): Juz I. Ttp: Tpn. Tth, halaman 129-135.


EmoticonEmoticon